Ana səhifə

Tim pengembang ipst fakultas ilmu sosial dan ekonomi menelusuri sungai bengawan solo


Yüklə 68.09 Kb.
tarix27.06.2016
ölçüsü68.09 Kb.
BAHAN AJAR IPST

TOPIK :

MENELUSURI SUNGAI BENGAWAN SOLO
Suhadi Purwantoro, M.Si.

Endang Mulyani, M.Si.

M. Nurrohman, M.Pd.

TIM PENGEMBANG IPST

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI
MENELUSURI SUNGAI BENGAWAN SOLO
Pendahuluan

Di manakah mataair Bengawan Solo? Menurut Gesang, pencipta lagu Bengawan Solo, mataair Sungai Bengawan Solo berasal dari Solo. Benarkah demikian?


Bengawan Solo riwayatmu ini

Sedari dulu jadi perhatian insani

Musim kemarau tak seberapa airmu

Dimusim hujan air meluap sampai jauh

Mataairmu dari Solo terkurung gunung seribu

Air mengalir sampai jauh akhirnya ke laut
Benarkah mataair Bengawan Solo dari Solo?

Amatilah pada gambar citra berikut!




Gambar Waduk Gajahmungkur di Wonogiri
Gambar di atas adalah citra satelit yang diperoleh dari program Google Earth yang ada di internet. Waduk Gajahmungkur terletak di Kabupaten Wonogiri, 30 km sebelah selatan kota Solo. Waduk itu membendung beberapa sungai kecil (kali), antara lain Kali Lanang, Kali Alang, Kali Keduwan, dan Kali Pidekso. Itulah awal atau hulu dari Sungai Bengawan Solo. Bengawan, dalam bahasa Jawa berarti sungai besar.
A. Topografi

Hulu Sungai Bengawan Solo terdapat di Pegunungan Seribu, Kabupaten Wonogiri. Pegunungan Seribu tempat mataair Bengawan Solo berasal merupakan perbukitan gamping. Batuan gamping (limestone) berasal dari batuan endapan dasar laut, yang kemudian terangkat naik karena proses tektonik. Proses tektonik adalah proses bergeraknya kerak bumi, baik naik, turun, maupun bergeser mendatar. Dasar laut terangkat naik hingga beberapa ratus meter di atas permukaan laut. Bengawan Solo yang sebelumnya mengalir ke arah selatan menuju Lautan Hindia berbalik mengalir ke utara. Itu terjadi pada kala Pleistosen Tengah (Mid Pleistocen). Kala Pleistosen tengah, berarti dalam rentang waktu antara tujuh ratus ribu hingga delapan ratus ribu tahun yang lalu.

Bukti bahwa Sungai Bengawan Solo diperkirakan pernah mengalir ke Samudra Hindia adalah adanya bekas aliran sungai sangat besar menuju ke arah Selatan. Dapat dilihat pada gambar citra. Pada gambar tersebut tampak aliran sungai besar mulai tampak sejak dari wilayah Giritontro, hingga bermuara di pantai selatan Gunungkidul. Secara geologis, Bengawan Solo terletak di Pulau Jawa bagian Timur. Pulau Jawa bagian timur, menurut van Bemmelen, dapat dibagi menjadi lima satuan tektonik, yaitu:


  • Jalur pegunungan selatan yang merupakan sedimen gamping yang terangkat pada kala Miosen (Miocen), yaitu sekitar 14 hingga 26 juta tahun yang lalu.

  • Jalur Depresi Tengah, yang juga muncul jalur vulkanik kuarter, dimulai dari Merapi Merbabu ke arah timur.

  • Jalur Kendeng berupa antiklorium timur barat berupa sedimen laut (marine sediment) lebar 20 km, sepanjang 250 km.

  • Jalur Depresi Randublatung lebar 10-20 km, secara struktur merupakan bentuk negatif yang diisi oleh endapan aluvial, dimulai dari Semarang, Randublatung, Cepu, Bojonegoro, hingga Selat Madura.

  • Jalur Rembang merupakan antiklinorium dengan lebar 80 km, berbatuan gamping, curam bagian utara, dengan perlipatan intensif dengan bentuk asimetri yang sempit.




Gambar Citra Wilayah Aliran Sungai Bengawan Solo Purba
Bengawan Solo mengalir melewati beberapa satuan geologi, dimulai dari Pegunungan Selatan, memotong jalur depresi tengah, yaitu zone Solo, dilanjutkan ke zone Kendeng, dan masuk di depresi Randublatung hingga ke Selat Madura. Demikian juga secara geomorfologis.

Bengawan Solo mengalir melalui beberapa satuan geomorfologis, dari bentuk-bentuk permukaan bumi yang bervariasi. Dimulai dari perbukitan gamping yang bertopografi karst di pegunungan selatan. Dilanjutkan ke wilayah dataran rendah (low land) dari wilayah Solo, Sangiran, Trinil, Cepu, Bojonegoro, hingga dataran pantai (coast plain) yang ada di Ujungpangkah Gresik Jawa Timur.

Tahukah dimana lokasi Sangiran, Trinil, dan Ujungpangkah? Lokasi-lokasi tersebut dapat dilihat pada peta.

B. Lokasi Hulu Sungai Bengawan Solo

Hulu Sungai Bengawan Solo berasal dari berbukitan kapur yang ada di Pegunungan Seribu, di Kabupaten Wonogiri, seperti Kali Lanang, Kali Alang, Kali Keduwan, dan Kali Pidekso. Kali-kali tersebut kemudian menjadi penyuplai waduk Gajahmungkur. Limpahan waduk tersebut kemudian mengalir ke Kali Kedawung yang berasal dari lereng barat Gunung Lawu yang berbatuan vulkanis. Kali Kedawung kemudian menyatu dengan Kali Dengkeng. Kali Dengkeng berasal dari lereng Merapi bagian Tenggara, Kabupaten Klaten. Hulu lainnya adalah berasal dari Kali Pepe, Kali Bramban, dan Kali Ceper dari lereng Merapi bagian timur yang vulkanis. Ada beberapa sungai lainnya yang bergabung seperti Kali Madiun, dan Kali Gondangan.

Secara astronomis hulu sungai Bengawan Solo bagian selatan dari Kali Alang pada posisi 8º05’ LS dan 111º50’ BT. Posisi paling Barat terletak di Kali Dengkeng pada 7º36’ LS dan 110º28’ BT. Muara Sungai Bengawan Solo terletak di utara Gresik di Ujungpangkah, yaitu pada posisi 6º56’ LS dan 112º32’BT.

Sungai Bengawan Solo mengalir melalui zone Solo dengan endapan aluvial gamping bercampur vulkanis, diteruskan ke arah timur laut melalui endapan aluvial pasir, yang populer dikenal sebagai endapan pada cekungan Randublatung. Randublatung, desa yang terletak di sebelah barat kota Cepu. Namun Cekungan Randublatung dimulai dari wilayah Semarang ke arah timur hingga ke Selat Madura. Dinamakan Cekungan Randublatung, karena wilayah sepanjang selatan Gunung Muria hingga Selat Madura semula merupakan laut (cekungan) yang terjadi pengendapan atau sedimentasi. Semula Gunung Muria yang berbatuan leucit, terpisah dengan Pulau Jawa. Adanya sedimentasi akhirnya menyatukan Gunung Muria dengan pantai Pulau Jawa. Laut dangkal biasanya banyak populasi plankton dan nekton, sehingga sisa-sisa mahluk itu akhirnya terpendam. Oleh karenanya sedimentasi di laut dangkal biasanya banyak mengandung gas dan minyak bumi. Contohnya Pertambangan minyak dan gas Cepu, Bojonegoro, dan yang sekarang sedang menjadi perbincangan hangat adalah munculnya mud volcano atau gunung lumpur, yaitu fenomena keluarnya lumpur panas ke permukaan bumi di Porong Sidoarjo.





Gambar permukiman dan sawah di sekitar aliran Sungai Bengawan Solo

Dataran yang ada di sekitar sungai kebanyakan relatif landai, dengan endapan aluvial. Tanah endapan aluvial sekitar Sungai Bengawan Solo berasal dari materi gamping dan vulkanis. Endapan aluvial yang ada di dataran banjir sekitar sungai menjadi tanah pertanian subur. Tidak mengherankan jika sepanjang sekitar sungai itu merupakan wilayah yang banyak dihuni penduduk sejak zaman pra aksara. Sebagaimana masyarakat pra aksara lainnya, masyarakat yang tinggal di aliran Sungai Bengawan Solo diperkirakan memiliki mata pencaharian sebagai pengumpul makanan (food gathering), yang tumbuh subur di dataran banjir kanan kiri sungai, dan sebagai pemburu hewan, baik di daratan/hutan, maupun di sungai.


C. Penemuan Manusia Purba di Sekitar Bengawan Solo

Sungai Bengawan Solo memiliki arti sangat penting bagi penemuan dan penyelidikan sejarah kehidupan manusia purba. Umumnya manusia purba memang hidup di sekitar aliran sungai-sungai besar di dunia ini. Mengapa ? Air adalah sumber kehidupan bukan hanya untuk manusia tetapi juga mahluk-mahluk hidup yang lain. Di sekitar dan di dalam sungai itulah berkembang kehidupan, baik tumbuhan, pohon-pohon yang menghasilkan buah, umbi-umbian yang dapat dimakan manusia sampai hewan darat maupun mahluk yang hidup di air. Mengingat manusia purba waktu sangat menggantungkan hidupnya dengan apa yang disediakan di alam, maka dengan tinggal di sekitar sungai mereka akan dengan mudah mendapatkan makanan untuk melangsungkan kehidupannya. Itulah sebabnya di sepanjang sungai Bengawan Solo banyak ditemukan fosil-sosil manusia purba.

Dalam hal penemuan manusia purba negeri kita, khususnya wilayah Bengawan Solo, menduduki tempat yang luar biasa pentingnya, karena fosil-fosil manusia purba yang ditemukan di sepanjang kawasan ini berasal dari segala jaman pleistocen, sehingga dapat memberikan gambaran perkembangan badaniah manusia purba waktu itu. Sementara temuan-temuan manusia purba di belahan dunia yang lain tidak dapat memberikan gambaran yang demikian lengkap sebagaimana yang ditemukan di negeri kita.

S




epanjang sungai Bengawan Solo memang banyak ditemukan fosil manusia purba. Temuan pertama fosil manusia purba di Indonesia yang dikatakan sebagai pangkal tolak penyelidikan selanjutnya adalah penemuan Pithecanthropus Erectus dalam tahun 1890 oleh E. Dubois di daerah Trinil, sebuah desa di pinggir Sungai Bengawan Solo, kawasan Ngawi, Jawa Timur. Mula-mula ditemukan sebagian dari tulang rahang. Dalam tahun berikutnya, kurang lebih 40 km dari tempat penemuan pertama, ditemukan sebuah geraham dan bagian atas tengkorak. Di tahun 1892 beberapa meter dari penemuan tersebut kemudian ditemukan sebuah geraham. Lima belas meter dari penemuan ini ditemukan lagi sebuah tulang paha kiri.

Tengkorak dan Tulang Paha

Peta lokasi penemuan fosil manusia purba
Sayangnya dari temuan-temuan tengkorak manusia purba waktu itu tidak ditemukan dasarnya, sehingga sulit untuk menentukan volume otaknya. Diperkirakan volume otak manusia purba yang ditemukan kurang lebih 900 cc. Sebagai bahan pertimbangan, manusia biasa volume otaknya selalu lebih dari 1000 cc, sedangkan jenis kera yang tertinggi volume otaknya hanya 600 cc. Dengan demikian, manusia purba yang ditemukan di Trinil, dikategorikan antara manusia dengan kera. Hal ini juga didukung oleh bentuk tulang belakang tengkoraknya, yang menentukan posisi kepala di atas leher, menunjukkan ke arah itu. Demikian juga tulang keningnya sangat menonjol ke muka,dan di atas bagian hidung bergandeng menjadi satu. Di atas tulang kening tulang dahinya terus saja licin ke beakang, sehingga dikatakan dahinya tidak ada. Tulang pahanya lebih mempunyai sifat kemanusiaan, sehingga nyata si empunya tulang dapat berjalan tegak. Dari ukuran tulang paha itu diperkirakan mahluk mitu tingginya 165 cm. Gerahamnya lebih besar dari geraham terbesar dari jenis manusia biasa dan menunjukkan sifat-sifat kera.






Perbandingan tengkorak Simpanse, Tengkorak Homo Sapiens

Pithecantrhopus Erectus dan Manusia
Dari semua itu, sulit menentukan apakah mahluk itu sebagai kera (pithekos) atau sebagai manusia (anthropos). E Dubois sendiri menempatkan mahluk itu di antara kera dan manusia, namun cara berjalannya sudah tegak. Oleh karena itu maka mahluk itu diberi nama Pithecanthropus Erectus (manusia kera yang berjalan tegak). Jika mahluk ini dimasukkan dalam kelompok kera, maka ia lebih tinggi tingkatannya dibanding jenis kera manapun, namun bnila dimasukkan dalam jenis manusia maka ia lebih rendah tingkatannya dari jenis manusia (homo sapiens) manapun juga.




Manusia purba jenis

Pithecanthropus Erectus
Penyelidikan selanjutnya dilakukan oleh von Koeningswald.Ia mengadakan penelitian tahun 1936 – 1941 didaerah sepanjang lembah sungai Bengawan Solo.Pada tahun 1936 di temukan sebuah fosil tengkorak kanak-kanak di dekat Mojokerto.Dari gigi-giginya diperkirakan kanak-kanak tersebut belum melewati umur 5 tahun. Makhluk itu dinamakan Homo Mojo kertotensis.

Pada tahun 1941 di daerah Sangiran (lembah Sungai Bengawan Solo) von Koeningswald menemukan sebagian tulang rahang bawah yang jauh lebih besar dan kuat dari rahang Pithecanthropus Erectus.Geraham-geraham ini menunjukkan corak kemanusiaan tetapi banyak juga sifat-sifat kerannya. Dagunya tidak ada. Von Koeningswald menempatkan mahluk ini lebih tua tinimbang Pithecanthropus Erectus manapun. Mengingat bentuk tubuhnya yang besar (megas) mahluk itu diberi nama Meganthropus Paleojavanicus.

Sementara itu dalam tahun 1931 – 1934 di dekat Ngandong (Kabupaten Blora), kawasan lembah Bengawan Solo juga, ditemukan 11 fosil tengkorak. Dari penyelidikan von Koeningswald dan Weidenrich dinyatakan bahwa mahluk-mahluk itu lebih tinggi tingkatannya tinimbang Pithecanthropus Erectus, bahkan sudah dekat atau dapat dikatakan sebagai manusia. Oleh karena itu, fosil-fosil tersebut dinamakan Homo Soloensis (manusia dari Solo).

Penyelidikan yang diperbaharui atas temuan fosil tengkorak yang ditemukan di dekat Wajak, Tulungagung, Kediri, tahun 1889, menghasilkan temuan bahwa tengkorak Homo Wajakensis berlainan dengan tengkorak bangsa Indonesia umumnya, tetapi memiliki banyak kesamaan dengan tengkorak penduduk asli benua Australia sekarang. Menurut E Dubois Homo Wajakensis termasuk dalam golongan bangsa Austroloide, bernenek moyang Homo Soloensis yang akhirnya menurunkan langsung bangsa-bangsa asli Benua Australia. Menurut E Dubois, Homo Soloensis dan Homo Wajakensis mungkin sekali sudah dapat dimasukkan ke dalam homo sapiens. Ketinggian tingkatannya nampak bahwa Homo Wajakensis telah ditanam (dikubur) sebagaimana bekas-bekas waktu ditemukan.




Perbandingan manusia modern, homo sapiens purba dan homo erectus

Setelah masa penjajahan Belanda berakhir, penyelidikan tentang manusia purba dilanjutkan oleh para ahli dari Indonesia sendiri. Tokoh penelitian yang terkenal antara lain Prof. Dr. T. Jacob. Penelitian terutama dilakukan di sekitar Sangiran dan sepanjang lembah Bengawan Solo.

D. JENIS MANUSIA PURBA DI INDONESIA

Setelah beberapa hasil penelitian dan penemuan fosil manusia purba direkonstruksi, maka dapat digolongkan beberapa jenis manusia purba, sebagai berikut:



1. Jenis Meganthropus

Temuan Von Koenigswald Tahun 1936 dan 1941 yaitu rahang manusia di daerah Sangiran setelah direkonstruksi bentuknya menunjukkan mahluk yang besar. Hasil penemuan ini dimasukkan dalam kelompok jenis manusia Meganthropus. Megas artinya besar atau raksasa dan anthropus artinya manusia. Jadi, Meganthropus itu jenis manusia raksasa. Jenis Meganthropus hasil penemuan Van Koenigswald kemudian dikenal dengan nama Meganthropus Palaeojavanicus, artinya mahusia raksasa dari Jawa. Jenis manusia ini memiliki rahang yang kuat dengan badan yang tegap. Jenis ini diperkirakan makan tumbuh-tumbuhan. Masa kehidupannya diperkirikan sekitar dua sampai satu juta tahun yang lalu, bertepatan dengan Zaman Plestosen Awal.



2. Jenis Pithecanthropus

Fosil-fosilnya ditemukan tahun 1890 E Dubois di Trinil, dekat Lembah Bengawan Solo, setelah direkonstruksi terbentuklah sebuah kerangka manusia, tetapi masih terlihat tanda-tanda kera. Jadi, di antara kera dan manusia. Oleh karena itu disebut jenis Pithecanthropus Erectus atau manusia kera yang berjalan tegak. Jenis Pithecanthropus merupakan jenis yang paling banyak ditemukan di Indonesia.

Di Indonesia, selain Pithecanthropus Erectus, juga ada Pithecanthropus Mojokertensis, yang fosilnya ditemukan di Jetis dekat Mojokerto Jawa Timur. Kehidupan mereka kira-kira pada Plestosen Tengah. Ciri-ciri dari jenis Pithecanthropus antara lain:


  1. Pada tengkorak, tonjolan keningnya tebal

  2. Hidungnya lebar, dengan tulang pipi yang kuat dan menonjol, serta

  3. Tingginya sekitar 165 - 180 cm.

Makanan Pithecanthropus tidak hanya tumbuh-tumbuhan seperti Meganthropus, tetapi sudah makan segala yang ditemuinya.

3. Jenis Homo

Fosil jenis homo diternukan di Wajak. Pertarna kali ditemukan oleh Von Rietschoten. Setelah diteliti oleh Dubois dan kawan-kawan, disimpulkan sebagai jenis homo. Ciri-cirinya, muka lebar dengan hidung yang lebar dan mulutnya menonjol. Dahinya juga masih menonjol , sekali pun tidak seperti jenis Pithecanthropus. Bentuk fisiknya sudah seperti manusia sekarang. Jenis manusia homo tingginya diperkirakan sekitar 130- 210 cm, dengan berat badan kira-kira 30 -150 kg. Hidupnya diperkirakan di sekitar 40.000 - 25.000 tahun yang lalu. Jenis manusia inilah jenis manusia yang sesungguhnya sebagai makhluk yang sempurna di muka bumi.



Homo sapiens purba

Di Indonesia ada beberapa ternpat penemuan, antara lain di Wajak, sehingga dinamakan Homo Wajakensis. Jenis ini diperkirakan menjadi nenek moyang dari ras Australoid yang merupakan penduduk asli Australia.

Ada juga yang ditemukan dekat Solo, sehingga disebut dengan homo Soloensis, artinya manusia dari Solo. Jenis ini hidup sudah lebih maju. Alat-alat yang dipergunakan untuk mempertahankan hidup sudah lebih lengkap.




TUGAS

Lakukan identifikasi jenis manusia purba dengan cirri-cirinya, siapa penemunya, tahun berapa, di daerah mana, dan bagaimana penyebarannya.

Kalian dapat membuat tabel untuk mengidentifikasi tugas di atas.


E. Kehidupan Soaial Ekonomi Masyarakat Praaksara

Pada hakekatnya kehidupan individu dan masyarakat tidak dapat lepas dari persoalan ekonomi. Manusia juga dikenal sebagai makhluk ekonomi (homo economicus). Sebagai homo economicus artinya manusia dalam memenuhi kebutuhannya selalu mempertimbangkan mana yang lebih menguntungkan pada dirinya. Namun demikian bukan berarti hanya mementingkan dirinya semata, tetapi juga terkait dengan kepentingan untuk manusia lain atau masyarakat, sehingga manusia juga dikenal sebagai makhluk sosial. Dalam kehidupan bermasyarakat manusia juga tidak bisa mengabaikan etika dan nilai-nilai moral. Itulah Sebabnya makhluk yang dikenal sebagai manusia itu juga dikenal sebagai makhluk ekonomi sosial yang bermoral.

Kalau kita cermati, makhluk ekonomi sosial yang bermoral sudah ada sejak zaman praaksara (masa manusia belum mengenal tulisan), terutama jenis makhluk homo sapien. Dalam kehidupan keseharian, untuk memenuhi kebutuhannya manusia homo sapien telah hidup menetap dan melakukan bercocok tanam. Mengapa mereka hidup menetap? Mengapa mereka melakukan bercocok tanam? Mereka hidup menetap tinggal di tepi sungai karena tanahnya subur sehingga mudah untuk melakukan kegiatan bercocok tanam. Inilah sebagai bentuk motif ekonomi masyarakat praaksara.

T


Berfikir Kritis

Coba bandingkan dengan masyarakat petani pada saat sekarang. Mengapa Pak Kamil memilih menggunakan traktor untuk membajak sawahnya dibanding menggunakan sapi atau kerbau?


indakan masyarakat praaksara untuk bercocok tanam ini tentu mempunyai pilihan yang tepat bila dikaitkan dengan kondisi lingkungan dan teknologi yang dimiliki pada saat itu. Dengan demikian masyarakat praaksara pada saat itu telah mengenal prinsip ekonomi.
Bagaimana perkembangan kehidupan sosial ekonomi masyarakat pada zaman praaksara? Perkembangan kehidupan sosial ekonomi masyarakat pada zaman praaksara atau pada manusia purba meliputi beberapa tahap.


  1. Masa Berburu dan Meramu

Pada masa ini kehidupan manusia purba masih sangat sederhana. Kehidupan sosial ekonomi manusia purba pada masa ini meliputi:

a. Mencari dan Mengumpulkan Makanan

Pada masa ini manusia purba dalam memenuhi kehidupannya dilakukan dengan cara berburu dan meramu. Di dalam berburu mereka mencari dan menangkap binatang. Beberapa binatang yang ditangkap pada saat itu antara lain rusa, celeng banteng, kera, badak, kuda sungai, kerbaau liar. Disamping itu mereka juga menangkap ikan. Kaum laki-laki pada umumnya melakukan aktivitas berburu, sedangkan yang perempuan tugasnya mengumpulkan makanan. Selain mengumpulkan makanan pada umumnya kaum wanita mempunyai tugas mengasuh anak. Aktivitas meramu diartikan sebagi kegiatan mengumpulkan makanan dari alam atau dari hutan belantara. Dalam kegiatan meramu, kegiatan yang dilakukan adalah mengumpulkan bahan makanan yang menurut mereka enak dimakan secara langsung. Makanan yang dikumpulkan berupa jenis ubi-ubian, buah-buahan, keladi maupun daun-daunan. Cara hidup dengan cara mengumpulkan ini biasa disebut dengan foodgathering. Bahan makanan yang dikumpulkan itu tidak dimasak terlebih dahulu karena mereka belum mengenal memasak.

Cara hidup masyarakan purba pada masa ini senantiasa berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Pada umum mereka akan meninggalkan tempat jika bahan makanan di tempat tersebut sudah habis, kemudian mereka pindah ke tempat yang lain dimana tempat tersebut banyak bahan makanan. Pemilihan tempat berteduh, disamping banyak bahan makanan, meraka biasanya memilih tempat yang ada airnya.

Alat yang biasa digunakan untuk mencari dan meramu bahan makanan pada zaman ini umumnya berupa batu, tulang dan kayu. Alat-alat ini masih sangat sederhana dan kasar. Alat –alat ini berbentuk kapak genggam.Kapak ini berbentuk kapak tetapi tidak bertangkai dan digunakan untuk memukul binatang ,memotong suatu benda maupun bahan makanan. Jenis alat ini banyak ditemukan di daerah Pacitan. Alat lain berupa alat-alat serpih. Alat ini digunakan sebagai gurdi, penusuk dan pisau. Pada tahap ini masyarakat belum mengenal pertukaran, mereka makan dari apa yang diperoleh teman-temannya (kelompoknya).




  1. Hidup Bekelompok

Manusia purba pada umumnya hidup secara berkelompok/ bergerombol dimana tempat tersebut banyak bahan makanan dan air. Pada umumnya mereka tinggal di tempat yang aman dari gangguan bencana dan ancaman dari binatang buas, seperti di padang rumput dan hutan yang berdekatan dengan sungai, karena di tempat tersebut pada umumnya banyak buah-buanhan, daun-dauanan, ubi-ubian dan biasanya dilewati binatang.



  1. Bertempat Tinggal Sementara

Dalam perkembangnnya, sebagian dari manusia purba ada mulai bertempat tinggal sementara.Tempat tinggal sementara biasanya di gua-gua, tepi danau, maupun ditepi pantai. Tempat-tempat tersebut digunakan untuk berteduh dan menimbun bahan makanan.


  1. Masa Bermukim dan Bercocok Tanam

Masa ini sudah memasuki zaman Neolithikum ( zaman batu baru). Pada tahap ini manusia sudah mencapai tingkatan yang cukupmaju.Hal ini ditandai dengan adanya perkembangan makluk Homo Sapiens Murni. Makhluk ini termasuk jenis manusia cerdik yang sudah menggunakan akal pikiran secara sempurna. Kehidupan manusia pada masa ini sudah mulai bermukim dan menetap.

Kehidupan masa ini meliputi:



a. Kehidupan Bermukin dan Berladang

Pada tahap ini kehidupan manusia mulai menetap dan untukmemenuhi kehidupan sehari-hari mereka mulai mengenal bercocok tanam. Mereka mulai menanam jenis makanan yang menghasilkan bahan makanan. Untuk mengembangkan kegiatan berladang mereka mulai berusaha membuka ladang baru dengan cara menebang hutan dan membakar pohon-pohonan di hutan sekitarnya, sehingga tercipta ladang baru untuk ditanami. Mula-mula ladang ditanami jenis ubi-ubian dan keladi, kemudian berkembang jenis padi-padian, biji-bijian dan juga pisang. Disamping berladang mereka juga melakukan kegiatan berburu dan menangkap ikan. Selanjutnya mereka mulai mengenal beternak seperti kerbau, sapi, kuda, babi maupun unggas. Pada tahap ini manusia tidak lagi hanya bergantung pada alam, mereka sudah mengusahakan dan, menghasilkan sendiri bahan makanan yaitu dengan bercocok tanam dan beternak.Cara hidup seperti ini biasa disebut dengan food producing.


b. Kehidupan Bercocok Tanam di persawahan

Cara hidup manusia dengan food producing terus berkembang dan mengalami peningkatan, hal ini didorong oleh makin meningkatnya jumlah penduduk yang diakibatkan karena pola hidup yang sudah menetap. Dengan bertambahnya jumlah penduduk food producing semakin meningkat, jenis tanaman yang ditanam juga semakin bertambah seperti sukun, durian, rambutan, duku, salak maupun kelapa. Sistem pertanian pada zaman ini dilakukan dengan cara membuat pematang-pematang untuk menahan air.Di daerah pegunungan mulai dibuat sawah-sawah bertingkat-tingkat yang dilengkapi dengan saluran air. Cara ini merupakan bentuk irigasi pada tahap permulaan. Pada tahap ini sudah dikenal padi gogo yang biasa ditanam di tanah kering. Disamping itu pada tahap ini juga sudah mulai mengenal padi persawahan. Ini menunjukkan kemajuan di bidang pertanian.

Alat yang digunakan pada masa ini adalah alat yang jenis kapak yakni kapak lonjong dan kapak persegi.

Pada jaman ini, kebutuhan manusia masih relatif sedikit dan sederhana, setiap orang menghasilkan sendiri barang-barang yang mereka butuhkan tanpa bantuan orang lain. Makanan, pakaian dan tempat tinggal diproduksi sendiri dan selanjutnya dikonsumsi sendiri pula. Masyarakat yang seperti ini biasa disebut dengan masyarakat subsistence. Akan tetapi seiring dengan perkembangan peradaban manusia, kebutuhan manusia menjadi semakin banyak dan semakin kompleks. Manusia menjadi semakin tidak mampu mengusahakan sendiri seluruh alat pemuas kebutuhan mereka. Keadaan ini menyebabkan saling ketergantungan antar anggota masyarakat. Manusia menjadi lebih suka menukarkan barang hasil produksinya dengan barang hasil produksi orang lain yang mereka butuhkan. Pertukaran semacam ini, disebut dengan barter. Pada zaman ini, merka belum mengenal uang.

Semakin majunya suatu perekonomian, pertukaran dengan cara barter ternyata menghadapi berbagai kesulitan. Kesulitan yang pertama adalah kesulitan menemukan barang yang sesuai dengan kebutuhan, kedua adalah kesulitan menentukan nilai tukar barang dan yang ketiga adalah kesulitan menyimpan barang yang akan ditukarkan.

Adanya kesulitan-kesulitan yang menyertai pertukaran dengan cara barter, membuat manusia mulai memikirkan cara baru yang lebih mudah. Mereka kemudian menetapkan satu jenis benda tertentu yang bisa digunakan untuk menukarkan dengan segala macam barang dan jasa yang ada dalam masyarakat. Dalam sejarah dikenal beberapa jenis benda yang pernah digunakan sebagai alat tukar yaitu, ternak, tembakau, bulu binatang, minyak, alkohol, intan, berlian, mutiara, kerang, gigi binatang, kulit, gading, sepotong besi, gelang, tiram dan sebagainya. Cara pertukaran yang baru ini disebut juga pertukaran dengan menggunakan barang perantara ( pertukaran uang-barang). Bagaimana cara ini dilaksanakan? Sebagai contoh, misalnya kulit kerang telah disepakati sebagai alat pembayaran. Oleh karena itu, dengan menggunakan kulit kerang, Pak Harto bisa membeli tempat tidur dari Pak Hadi. Selanjutnya kulit kerang dari Pak Harto tadi, oleh Pak Hadi digunakan untuk membayar ayam milik Pak Didik, dan dengan menggunakan kulit kerang yang sama Pak Didik akan bisa membeli jagung dari Pak Harto. Dengan cara ini, kesulitan karena tidak adanya kesesuaian kebutuhan dalam barter dapat terpecahkan.

Pertukaran dengan uang barang ternyata masih memunculkan kesulitan-kesulitan yang lain. Kesulitan ini bersumber dari sitaf-sifat umum yang melekat pada benda yang digunakan sebagai perantara tukar menukar. Sifat-sifat tersebut adalah :


  1. sulit untuk dipindah-pindahkan

  2. tidak tahan lama atau cepat rusak

  3. sulit disimpan

  4. nilainya tidak tetap atau bisa berubah

  5. sulit dibagi tanpa mengurangi nilainya

Adanya sifat-sifat di atas pada benda Anda mengapa aluminium, perunggu atau kertas yang dipilih sebagai bahan untuk membuat uang ? Jawabannya adalah, karena benda-benda tersebut harganya relatif lebih murah dibandingkan benda-benda yang lain. Untuk memudahkan pemahaman kalian mengenai tahap perkembangan tukar menukar perhatikan bagan berikut !

Tukar menukar barang dengan barang (Barter)


BARANG

BARANG

BARANG


UANG BARANG

BARANG
Tukar menukar dengan perantaraan uang barang


BARANG



UANG

BARANG
T ukar menukar dengan perantaraan uang



Gambar. Tahap-tahap Pertukaran

Penutup

Bengawan Solo tidak hanya bermakna sebagai judul lagu keroncong yang masyhur hingga ke mancanegara. Bengawan Solo juga sangat bermakna dalam kehidupan dari zaman pra aksara hingga masa yang akan datang. Kata bengawan adalah sebutan sungai yang besar bagi orang Jawa, sedang kali adalah sebutan sungai yang lebih kecil. Bengawan Solo menjadi sungai besar gabungan dari beberapa anak sungai yang berasal dari perbukitan gamping yang ada di Pegunungan Selatan maupun lereng gunung-gunung berapi.

Di sekitar aliran Sungai Bengawan Solo inilah ditemukan banyak bukti sejarah yang menguatkan teori geografi dalam pandangan environmentalism, yaitu bahwa manusia selalu menyesuaikan dengan alam sekitar. Artinya wilayah sekitar alur sungai biasanya dihuni oleh lebih banyak penduduk. Hal itu berkaitan dengan kebutuhan hidup paling vital, yaitu ketersediaan air. Sangat logis bila ternyata dibeberapa lokasi aliran sungai ini ditemukan banyak fosil manusia dan binatang yang menguatkan bahwa kehidupan purba telah ada. Meganthropus Palaeojavanicus, Pithecantropus erectus, Pithecantropus Mojokertensis, fosil gajah purba, sapi purba, hingga moluska dan sebagainya. Dari tempat ini pula kehidupan sosial ekonomi telah tampak dari berbagai fosil peralatan purba seperti kapak, trisula, dan tombak. Kehidupan masyarakat yang semula hanya mengumpulkan makanan (food gathering) kini telah berubah menjadi memproses bahan pangan (food processing).

Bengawan Solo, kini menjadi sumber penghidupan baik bagi masyarakat perdesaan maupun perkotaan lintas desa, kecamatan, kabupaten, bahkan propinsi.


Glosarium

Aluvial : proses pengendapan yang berasal dari erosi yang berasal dari lokasi lain, biasanya terbawa oleh aliran air.

Barter : Pertukaran antar barang dengan barang

Citra : gambaran permukaan bumi yang direkam dengan kamera baik digital maupun non digital dengan wahana pesawat terbang atau satelit.

Tektonik : proses berubahnya posisi kerak bumi, naik, turun, geser, karena adanya tenaga dari dalam bumi (endogen)

Pithecanthropus Erectus : adalah manusia kera yang berjalan tegak

Homo Soloensis : adalah fosil-fosil manusia dari Solo. Jenis ini hidup sudah lebih maju. alat-alat yang dipergunakan untuk mempertahankan hidup sudah lebih lengkap.
DAFTAR PUSTAKA
Bemmelen, 1972. Geology Indonesia, Vol. IA. The Haque The Netherlands

Duyfjes, J.1936. The Geology and stratigraphy of Kendeng Area between Trinil and Surabaya. Nederlandsch: De mijningenieur.


Gilarso, T. 1992. Pengantar Ilmu Ekonomi Bagian Makro. Jakarta: Kanisius.
Google Earth: www.googleearth.com
Jarolimek, John (1985). Social Studies in Elementary Education, New York: Macmillan Publishing Company

Nursid Sumaatmaja, (1986). Pengantar Studi Sosial. Bandung: Alumni

M. Numan Somantri, (2001), Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS, Bandung: Rosda.
Mc Connell, Campbell R., & Brue, S.L. 2005. Economics: Principles, Problems, and Policies. New York: McGraw Hill Inc.
Mankiw, N. Gregory. 2003. Teori Makroekonomi. Jakarta: Erlangga.s

Sardiman A.M., (2005). Wawasan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Makalah Bahan Kajian Workshop Bridging Course : Depdiknas

Savage, Tom V., and David G. Amstrong (1996). Effective Teaching in Elementary Social Studies, Ohio: Prentice Hall

Subyoto, 1977. Pertumbuhan Struktur Geologi Kepulauan Indonesia. Yogyakarta:



Yayasan Penerbitan FKIS-IKIP YOGYAKARTA.
Sukendar Asikin.1988. Geologi Struktur Indonesia. Bandung: ITB






Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©atelim.com 2016
rəhbərliyinə müraciət