Ana səhifə

Di kawasan hutan dengan tujuan khusus kintap


Yüklə 30.07 Kb.
tarix25.06.2016
ölçüsü30.07 Kb.
PROFIL TEGAKAN PULAI (Alstonia spp.)

DI KAWASAN HUTAN DENGAN TUJUAN KHUSUS KINTAP


Oleh :

Edi Suryanto 1)

Arif Susianto 2)

Supriyadi 3)



1) Teknisi litkayasa penyelia pada Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru

2),3) Teknisi litkayasa pelaksana lanjutan pada Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru
Abstrak

Alstonia spp. Merupakan jenis yang paling besar dari semua marga pada suku apocynaceae, umumnya jenis ini tumbuh pada ketinggian di bawah 900 mdpl. Jenis ini memiliki kayu berwarna putih polos, lunak, ringan dan sangat tidak tahan lama sekalipun dapat diperoleh dalam ukuran-ukuran besar

Di KHDTK Kintap terdapat tegakan pulai (Alstonia spp.) yang merupakan salah satu jenis penyusun hutan, meskipun keberadaannya tidak terlalu banyak dan umumnya terdapat di lereng-lereng ditepi danau dan jalan sarad.

Pengamatan ini dimaksudkan untuk mengetahui profil vertical maupun horizontal pohon pulai (Alstonia spp.) di KHDTK Kintap, sehingga dapat memberikan informasi ke berbagai kalangan mengenai gambaran tegakan pulai di hutan alam beserta jenis-jenis lain yang berdampingan.

Jenis-jenis yang berdampingan dengan pulai adalah Macaranga sp., Macaranga hosei, Cratoxylon sp., Macaranga hypoleuca, Vernonia arborea, Palaquium dassiphyllum, Artocarpus elastica, Aphanamixis polystachya, Macaranga gigantea, Canarium littorale, Aglaia sp., Dacryodes rostata, Baccaurea pendula, Belunuran, Bangkinang, Ampadu puyau, Kandiwalan dan Tiwangau.
Kata kunci : Pulai, Profil, Kintap.



  1. PENDAHULUAN

Alstonia spp. Merupakan jenis yang paling besar dari semua marga pada suku apocynaceae, umumnya jenis ini tumbuh pada ketinggian di bawah 900 mdpl. Jenis ini memiliki kayu berwarna putih polos, lunak, ringan dan sangat tidak tahan lama sekalipun dapat diperoleh dalam ukuran-ukuran besar. Kayunya dapat digunakan sebagai peti, papan acuan beton dan pekerjaan tuangan. Selain itu kayu dari jenis ini baik untuk dipergunakan sebagai bahan baku pada pabrik korek api (Heyne K, 1987).

Menurut Whitmore T.C.(1989), jenis Alstonia schoolaris memiliki tinggi mencapai 36 meter dengan diameter hingga 80 cm dan tumbuh pada hutan dataran rendah, hutan primer maupun hutan sekunder.

Pohon pulai berbunga dan berbuah pada bulan mei-agustus.buahnya berbiji banyak, tiap kg biji kering berisi 620.000 butir (Martawijaya dkk.,1981 dalam Rahmanadi dkk 2008). Bijinya setelah dijemur selama 2 hari kemudian disimpan dalam kaleng tertutup rapat, selama 2 bulan masih mampu berkecambah 90%. Benih pulai mulai berkecambah pada hari ke-8 (minggu ke-2) setelah di semai. Ternyata yang paling banyak berkecambah adalah biji yang terdapat pada bagian tengah malai dan yang paling sedikit adalah pada bagian ujung (Rahmanadi D., Susianto A., 2008).

Dalimartha S. (2002) menyebutkan bahwa pada jenis ini terdapat bagian-bagian yang berkhasiat obat yaitu daun dan kulit kayu yang berguna sebagai peluruh dahak, haid, stomatik, anti perik, pereda kejang, menurunkan kadar gula darah, tonik dan antiseptic. Daun mengandung pikrinin sedangkan bunganya mengandung asam ursolat dan lupeol yang juga berkhasiat obat. Adanya khasiat pada daun dan kulit kayu disebabkan pada bagian tersebut mempunyai kandungan zat ekstraktif yang berkhasiat obat.

Di KHDTK Kintap terdapat tegakan pulai (Alstonia spp.) yang merupakan salah satu jenis penyusun hutan, meskipun keberadaannya tidak terlalu banyak dan umumnya terdapat di lereng-lereng ditepi danau dan jalan sarad.



Pengamatan ini dimaksudkan untuk mengetahui profil vertical maupun horizontal pohon pulai (Alstonia spp.) di KHDTK Kintap, sehingga dapat memberikan informasi ke berbagai kalangan mengenai gambaran tegakan pulai di hutan alam beserta jenis-jenis lain yang berdampingan.


  1. KEADAAN UMUM LOKASI PENGAMATAN

KHDTK Kintap merupakan salah satu kawasan hutan penelitian yang dimiliki oleh Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru yang dibentuk tahun 1987 pada saat pemerintah RI dalam hal ini Departemen Kehutanan bekerjasama dengan Finlandia dalam proyek ATA-267 yang dimaksudkan untuk menampung atau memfasilitasi berbagai kegiatan penelitian berbasis hutan alam. Berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. SK. 83/Menhut-II/2004 tanggal 10 Maret 2004 luas areal KHDTK Kintap adalah 1000 ha dan secara geografis terletak antara 114o50’32’’ – 115o19’51’’ BT dan 3o36’53’’ – 3o55’40’’ LS yang termasuk dalam wilayah Dinas Kehutanan Kabupaten Tanah Laut. Berdasarkan administratif pemerintahan, lokasi ini termasuk dalam Desa Riam Adungan, Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut Propinsi Kalimantan Selatan (Mukhlisin dan Suryanto E., 2008).

        1. Tipe Tanah

Berdasarkan peta tanah tematik Kalimantan Selatan tahun 1985, tipe tanahnya podsolik merah kuning dan laterik dari bahan induk batuan beku dengan fisiografi datar. Topografi datar sampai bergelombang ringan serta berbukit sampai bergunung dengan ketinggian antar 50 – 625 m dpl. Memiliki kemiringan antara 0-23% yaitu bergelombang ringan sampai berat.

        1. Vegetasi

KHDTK Kintap merupakan areal bekas tebangan PT. Hutan Kintap pada tahun 1980 dengan didominasi belukar mahang. Terdapat 110 jenis pohon yang tersebar di dalam Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Kintap. Berikut sepuluh besar jenis pohon yang memiliki nilai INP tertinggi di KHDTK Kintap yaitu : Macaranga hypoleuca, Shorea johorensis, Shorea faguetiana, Macaranga gigantea, Palaquium dassiphyllum, Macaranga sp, Diospyros bornensis, Eusideroxylon zwageri, Shorea leprosula dan Diospyros sp. (Panjaitan, S. dan Suryanto, E. 2009).

        1. Iklim

Berdasarkan klasifikasi iklim menurut Schmidt dan Ferguson, iklim di lokasi ini termasuk tipe iklim B dengan nilai Q berkisar antara 13,3 – 33,33 %. Musim hujan berlangsung antara bulan Nopember-April dan musim kemarau bulan Mei-Oktober. Suhu rata-rata 25oC dengan suhu minimum dan maksimum adalah 22,6oC dan 29,9oC. Rata-rata curah hujan tahunan 3.017 mm dan rata-rata hari hujan 154 hari/tahun.


  1. METODOLOGI PENGAMATAN

  1. Bahan dan Perlengkapan

Bahan dan perlengkapan yang digunakan adalah phiband, haga, meteran, parang, kompas, tally sheet, millimeter blok dan alat tulis.


  1. Teknik pengambilan data

Pengamatan dilakukan dengan cara sengaja yaitu menunjuk secara langsung lokasi yang banyak ditumbuhi pohon pulai yang kemudian dibuat plot ukuran 20x50 meter. Setelah plot dibuat kemudian tiap individu pulai didata berikut empat pohon terdekat disekelilingnya berdasarkan sistim kuadran. Parameter yang diukur adalah diameter, tinggi bebas cabang, tinggi total, lebar tajuk koordinat (X,Y) dan jenis pohon terdekat.



  1. PROFIL TEGAKAN PULAI DI KHDTK KINTAP

    1. Profil Vertikal

Keterangan :

1 s.d. 7 = Tegakan pulai (Alstonia spp.)

A = Mahang ( Macaranga sp.)

B = Mahang (Macaranga hosei)

C = Mahang (Macaranga hosei)

D = Gerunggang (Cratoxylon sp.)

E = Mahang putih (Macaranga hypoleuca)

F = Belunuran

G = Mahang putih (Macaranga hypoleuca)

H = Merambung (Vernonia arborea)

I = Baitis (Palaquium dassiphyllum)

J = Mahang (Macaranga sp.)

K = Bangkinang

L = Terap (Artocarpus elastica)

M = Belayang (Aphanamixis polystachya)

N = Mahang gajah(Macaranga gigantea)

O = Ampadu puyau

P = Kahingai (Canarium littorale)

Q = Kandiwalan

R = Kuminjah (Aglaia sp.)

S = Belunuran

T = Kumbayau (Dacryodes rostata )

U = Tula-tula (Sterculia sp )

V = Kahingai (Canarium littorale)

W = Tiwangau

X = Masira (Baccaurea pendula)


Dari gambar profil vertical di atas dapat dilihat bahwa keberadaan tegakan pulai sebagai salah satu jenis penyusun hutan berada pada strata tengah (kodominan) yaitu di bawah tegakan mahang dan terap.




    1. Profil Horizontal


Keterangan :

1 s.d. 7 = Tegakan pulai (Alstonia spp.)


A = Mahang ( Macaranga sp.)

B = Mahang (Macaranga hosei)

C = Mahang (Macaranga hosei)

D = Gerunggang (Cratoxylon sp.)

E = Mahang putih (Macaranga hypoleuca)

F = Belunuran

G = Mahang putih (Macaranga hypoleuca)

H = Merambung (Vernonia arborea)

I = Baitis (Palaquium dassiphyllum)

J = Mahang (Macaranga sp.)

K = Bangkinang

L = Terap (Artocarpus elastica)

M = Belayang (Aphanamixis polystachya)

N = Mahang gajah(Macaranga gigantea)

O = Ampadu puyau

P = Kahingai (Canarium littorale)

Q = Kandiwalan

R = Kuminjah (Aglaia sp.)

S = Belunuran

T = Kumbayau (Dacryodes rostata )

U = Tula-tula (Sterculia sp )

V = Kahingai (Canarium littorale)

W = Tiwangau

X = Masira (Baccaurea pendula)




Pada gambar profil horizontal di atas memvisualisasikan proyeksi tajuk tiap jenis, penutupan lahan serta pohon-pohon yang berasosiasi dengan jenis pulai





  1. PENUTUP

Kesimpulan



      • Di KHDTK Kintap pohon pulai lebih banyak berdampingan dengan beberapa jenis mahang seperti Macaranga hosei, Macaranga sp., Macaranga hypoleuca dan Macaranga gigantea.

      • Jenis-jenis yang berdampingan dengan pulai adalah Macaranga sp., Macaranga hosei, Cratoxylon sp., Macaranga hypoleuca, Vernonia arborea, Palaquium dassiphyllum, Artocarpus elastica, Aphanamixis polystachya, Macaranga gigantea, Canarium littorale, Aglaia sp., Dacryodes rostata, Baccaurea pendula, Belunuran, Bangkinang, Ampadu puyau, Kandiwalan dan Tiwangau.

      • Profil vertikal menggambarkan keberadaan tegakan pulai sebagai salah satu jenis penyusun hutan berada pada strata tengah (kodominan) yaitu di bawah tegakan mahang dan terap.

      • Pada gambar profil horizontal memvisualisasikan proyeksi tajuk tiap jenis, penutupan lahan serta pohon-pohon yang berasosiasi dengan jenis pulai

DAFTAR PUSTAKA



Dalimartha, S. 2002. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 1. Trubus Agriwidya. Jakarta
Heyne K., 1987., Tumbuhan berguna jilid III, diterjemahkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Jakarta. Yayasan Sarana Wana Jaya. Jakarta
Mukhlisin dan Suryanto, E. 2008. Pemeliharaan dan Penataan Hutan Penelitian Hutan Alam di Kintap. Laporan Hasil Kegiatan Non Penelitian Tahun Anggaran 2008. Balai Penelitian Kehutanan. Banjarbaru.
Panjaitan. S. dan Suryanto, E. 2009. Uji Silvikultur Jenis Ulin, Silvikultur Hutan Tanaman Penghasil Kayu Pertukangan. Laporan Hasil Kegiatan Penelitian Tahun Anggaran 2009. Balai Penelitian Kehutanan. Banjarbaru.
Rahmanadi D. dan Susianto A. 2008. Uji Teknik Silvikultur pulai (Alstonia sp.), Silvikultur Hutan Tanaman Penghasil Kayu Pertukangan. Laporan Hasil Kegiatan penelitian Tahun Anggaran 2008. Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru.
Whitmore T.C., Tantra I.G.M. dan Sutisna U. 1989., Tree Flora Of Indonesia Chek List For Kalimantan Part I. Agency for Forestry Researc and Development. Forest Research and Development Centre. Bogor. Indonesia.


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©atelim.com 2016
rəhbərliyinə müraciət