Ana səhifə

Deskripsi hinterland karesidenan tegal abad XIX


Yüklə 138.84 Kb.
tarix27.06.2016
ölçüsü138.84 Kb.

DESKRIPSI HINTERLAND KARESIDENAN TEGAL ABAD XIX

Alamsyah, SS, M.Hum1

ABSTRACT

The result of the writing shows us that during 19 century, hinterland of Tegal residency Tegal is very important. The Hinterland produced by Tegal residency such as sugar, coffee, tea, rice, indigo, and sooon. It was in connection with colonial policy to invest intensively in this sector. Economic exspansion hinterland area supplied the export commodity. Beside hinterland community knew the export and import commodity, they could sell their goods to the merchants in the city easily. Economic exspantion made dynamic community and diversification of efforts. So it was not focused on a certain agricultural sector. Of course, the government of Nederlands Indies got the biggest benefit from hinterland economic expansion.
Key Words: Hinterland, ekonomi, commodity

  1. Pendahuluan

Hinterland adalah daerah pedalaman yang menopang kegiatan ekonomi di Karesidenan Tegal. Peran daerah Hinterland cukup penting dalam menggerakkan dinamika ekonomi masyarakat lokal. Namun, deskripsi mendalam tentang hinterland Karesidenan Tegal pada abad ke-19 masih sedikit yang diungkap (Suputro, 1959: 77-78). Pada abad ke-19, berdasarkan domumen disebutkan bahwa keberadaan Tegal ditopang oleh daerah pedalaman yang menghasilkan gula, beras, palawija, dan lain-lain. Ada beberapa area perkebunan tebu, indigo, serta berdiri pula beberapa pabrik gula di Tegal. Selain itu di Karesidenan Tegal tumbuh subur tanaman padi, palawija, sedikit kopi, ada ternak sapi, kerbau, dan lain-lain (P.J. Veth, 1869: 844-848. dan Arthur van Schaik, 1986: 129). Kondisi ini menunjukkan bahwa peran suplai pedalaman (hinterland) akan sangat mempengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat.

Atas dasar itulah maka dalama tulisan ini akan mendeskripsikan hinterland Karesidenan Tegal selama abad ke-19. Baik itu berkiatan dengan kondisi historis, demografis dan geografis, maupun kehidupan sosial ekonomi masyarakat, termasuk kebijakan pemerintah Hindia Belanda ekonomi terhadap wilayah ini.


B. Metode Penelitian

Penelitian ini mendasarkan atas studi arsip dan kepustakaan. Studi arsip, utamanya sumber-sumber tertulis dapat dilacak melalui perpustakaan resmi milik pemerintah maupun swasta. Baik itu di Arsip Nasional Republik Indonesia, Perpustakaaan Nasional Republik Indonesia, di perpustakaan KITLV, LIPI, di Perpustakaan Daerah Jogyakarta dan Semarang, Perpustakaan Sono Budoyo, Perpustakaan Yayasan Hatta, Perpustakaan Ignatius, Perpustakaan Pusat Penelitian Studi Kawasan dan Pedesaan utamanya di koleksi "Wertheim" UGM, Perpustakaan Jurusan Sejarah dan perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya UGM, Perpustakaan Pascasarjana UGM, dan lain-lain.

Kajian tentang deskripsi Karesidenan Tegal abad ke-19 lebih banyak mengandalkan pada sumber-sumber kolonial, utamanya untuk sumber primer dan sumber sekunder yang berupa pustaka. Antara sumber primer dan sumber sekunder merupakan sumber yang saling mendukung dalam mengungkap permasalahan. Dapat dikatakan bahwa fakta-fakta tidaklah mempunyai eksistensi yang berdiri sendiri, melainkan setiap bagian memiliki bagian dengan bagian yang lain sehingga terjalin hubungan secara keseluruhan.

  1. Pembahasan


  1. Tegal Sebelum Abad ke-19

Dalam catatan Tome Pires pada dasawarsa kedua abad ke-16 juga menempatkan “Teteguall” (Tegal) sebagai bandar yang penting di sepanjang pantai utara dan pantai timur Jawa (F.A. Sutjipto Tjiptoatmodjo, 1983: 44) Perdagangan di Tegal pada akhir abad ke-16 dikuasai oleh kaum bangsawan (F.A. Sutjipto Tjiptoatmodjo, 1983 : 44). Namun demikian pengurusan langsung usaha dagang ditangani orang-orang yang mereka percayai. Kaum bangsawan lebih bertindak sebagai penanam modal dalam perdagangan dan pemilik sebagian besar perahu-perahu.

Tegal merupakan daerah yang dipercaya Mataram pada masa Sultan Agung dan Amangkurat I sebagai daerah pengaman bagi kerajaan. Pada masa itu banyak prajurit Jawa yang ditempatkan di Tegal. Tetapi setelah adanya kontrak antara kompeni dan Sunan Pakubuwono II, disebutkan dalam vasal II kontrak tersebut yang berbunyi supaya sunan menarik atau memanggil prajurit itu ke istana. Dalam kontrak baru perdamaian antara Pakubuwono II dengan Kompeni juga mewajibkan sunan untuk mengumpulkan alat-alat dan tenaga untuk membangun dan memperbaiki loji yang ada di Tegal (F.A. Sutjipto, 1983: 205)

Pada masa terjadi pertempuran antara Mataram dengan Madura awal abad ke-17 kompeni mendapat kesukaran untuk memperoleh beras dari bandar-bandar Mataram karena semua perahu Mataram digunakan untuk keperluan perang. Untuk mengatasinya maka Kompeni Batavia terpaksa mengirimkan kapal-kapalnya ke Tegal, Demak, Jepara, dan Kendal untuk mengangkut beras. Pada awal abad ke-18 kota Tegal juga memainkan peran yang sangat penting. Dimana pada saat itu Kompeni berusaha memperkuat pertahanan Tegal agar tidak jatuh ke tangan Mangkubumi. Pertahanan Kompeni terhadap Tegal itu dengan tujuan untuk mempekuat pertahanan kota dalam menghadapi penyerangan dari Pangeran Mangkubumi pada masa Perang Giyanti. Pertahanan yang dilakukan Belanda dengan cara mendatangkan pasukan dari Madura dan Surabaya sebanyak 2000 orang.

Pada masa Kerajaan Mataram, wilayah Tegal menjadi bagian dari kekuasaannya. Dengan demikian maka kepala daerahnya diangkat oleh pemerintah kerajaan dengan surat ketetapan (piagam) raja. Pada masa pemerintahan kolonial, surat ketetapan itu dikeluarkan oleh pemerintah kolonial di Batavia (B. Schrieke, 1957: 153-205)

Pada tahun 1600-an, Tegal merupakan daerah yang ditunjuk Sultan Agung sebagai tempat untuk membawa beras dengan perahu yang diperlukan bagi persediaan pangan tentara Mataram dalam menyerang VOC di Batavia. (J.W. van Dapperen, 1933: 334)

Tanggal 31 Agustus 1629 hampir keseluruhan pasukan tiba di daerah sekitar Batavia. Mereka datang berkuda membawa bendera, panji-panji , dan juga gajah. Saat sampai Batavia, Mataram mengatur siasat dengan mengirim seorang utusan yang bernama Warga untuk meminta maaf kepada kompeni mengenai hal yang telah terjadi. Kompeni menerima Warga dengan baik, sementara itu kedua kalinya, ia ditangkap dan ditanyai tentang kebenaran berita, bahwa Mataram hendak menyerang Batavia lagi. Hal ini dibenarkan oleh Warga dan rahasia bahwa Tegal menjadi gudang persediaan beras bagi tentara Matarampun terbuka. Setelah mendapat keterangan ini kompeni mengirimkan armdanya ke Tegal , dimana perahu-perahu Mataram, rumah-rumah, dan gudang-gudang beras bagi tentara Mataram dibakar habis. Setelah Tegal dirusak, Kompeni mengarahkan perhatiannya kepada Cirebon. Akibat pemusnahan gudang beras Mataram, usaha pengepungan Batavia tidak berlangsung lama (Marwati Djoened, dkk, 1992: 74-75). Total kerugian yang diderita Mataram di Tegal sebanyak 4.000 pikul bersama dengan 200 perahu (J.W. van Dapperen, 1993: 334 dan H.J. de Graaf, 1958: 176). Kira-kira 100 perahu yang datang dengan padi menurut Tumenggung itu akhirnya akan dikirim untuk Batavia. Dia menghendaki agar semua padi itu ditumbuk di Tegal.

Persiapan Mataram untuk menggempur Batavia sebenarnya sudah terdeteksi oleh mata-mata VOC. Mata-mata itu melaporkan bahwa Mataram telah mengangkut dan menimbun sejumlah besar beras di sepanjang pantai, utamanya di daerah Tegal. Sebelum dibawa ke Batavia, padi yang diangkut dengan 100 perahu tersebut akan ditumbuk dulu di Tegal (H.J. de Graaf, 1958: 148.)

Pada masa Amangkurat I, Tegal direncanakan dipakai oleh sultan dan VOC untuk melakukan pertemuan berkaitan dengan pemberontakan di Mataram. Namun belum terlaksana karena Amangkurat I meninggal dalam perjalanan sebelum sampai ke kapal VOC yang berlabuh di Tegal. Dalam kondisi sakit sekitar dua minggu dia dibawa di dalam sebuah tandu ke arah barat melalui distrik Bagelen dan pegunungan di Banyumas. Sultan berharap dapat mencapai Tegal untuk bertemu dengan VOC yang telah menunggunya di dalam Kapal. Amangkurat I meninggal di sebuah desa kecil sebelum mencapai pantai. Tubuhnya diantarkan ke Tegal dan dikebumikan di atas bukit buatan yang diberi nama Seda ing Tegal Wangi. Putra mahkota, yaitu Amangkurat II menggantikan ayahnya menjadi raja Mataram sekaligus diakui oleh VOC sebagai penguasa di Tegal dan Jepara (H.J. de Graaf, T.G. Th. Pigeaud, 1976: 74). Setelah kematian Amangkurat I sebenarnya penguasa Tegal, Tumenggung Martalaya telah menyarankan kepada Amangkurat II untuk tidak meminta bantuan VOC dalam menumpas pemberontakan Trunojoyo di Jawa Timur Tetapi saran ini ditolak, dia cenderung lebih kooperatif dengan VOC, bahkan penguasa Tegal tidak disukai oleh Sultan (Thomas Stamford Raffles, 1994: 166)

Pada tahun 1677 ketika Amangkurat II menandatangani kontrak dengan VOC, daerah Jepara dan Tegal merupakan suatu tempat yang tersisa di sepanjang pantai (Luc Nagtegal,1996: 26) utara Jawa yang belum dikuasai oleh Pasukan Trunojoyo Perbatasan wilayah antara kompeni dan Mataram menggunakan patokan sungan Tjilosari Tegal (Alexandra A. de Heus, 1974: 7). Berkat jasa VOC terhadap Mataram pada waktu membantu pemberontakan Trunojoyo, maka sekitar tahun 1680 VOC mengangkat dirinya sebagai penguasa di pesisir Jawa, termasuk di Tegal. Di tempat inilah VOC membangun benteng yang kuat dan membangun pos perdagangan. Di sini sebenarnya mulai muncul embrio penduduk Eropa yang mendiami Kota Tegal. Pada awalnya sekitar tahun 1680 masyarakat Eropa tinggal dan membangun benteng, sehingga keberadaan mereka cukup ekslusif. Keuntungan tinggal di benteng adalah keamanan terjamin dan secara militer kekuatan VOC tidak pernah terpotong dari laut. Keberadaan orang Eropa di benteng sejalan dengan kebijakan antara VOC dan Bupati Tegal untuk mengelompokkan pedagang Eropa dan tentara Eropa terpisah dari penduduk Jawa. Mereka tinggal dibenteng dan tidak seorangpun dapat masuk ke lokasi itu tanpa seijin VOC dan bupati. Dalam perkembangannya karena hidup di dalam benteng tidak menyenangkan, sehingga mereka pindah ke rumah yang dibuat permanen di kota (Alexandra A. de Heus, 1974: 89-94). Adapun orang-orang Jawa tinggal di sebelah timur kampung kota dan orang-orang Cina tinggal di sebelah selatan.

Pemukiman Eropa di kota ini terletak di dekat laut, di sekitar suatu lapangan luas dekat rumah residen, di depan benteng. Di depan rumah residen terdapat gudang-gudang, sedangkan di tepi laut dan di belakang bangunan ini terletak sebuah fondasi bagi bangunan kubah gereja Tegal (P.J. Veth, 1869: 850)

Pada masa Pakubuwono II, Sunan meminta bantuan VOC dalam menumpas pemberontakan Cina (1740-1743). Melalui perjanjian tanggal 18 Mei 1746, maka daerah pesisir Mataram yang masih tersisa diserahkan kepada kompeni, termasuk Tegal (Perjanjian 1 November 1743 dan 18 Mei 1746, antara Pakubuwono II dan Kompeni terdapat dalam arsip Solo , box 53 no. 5. Arsip. 31). Posisi transportasi Tegal juga cukup strategis karena dapat dilalui dengan menggunakan jalur darat. Rute darat di antara Tegal dengan daerah lain atau ke pedalaman pernah dijelaskan oleh Gubernur Jenderal van Imhoff. Dia menggambarkan bahwa dalam kunjungannya ke Mataram tahun 1746, dari Surakarta ke Tegal melewati Kartasura, Jogjakarta kemudian lewat Kota Gede menuju pantai Selatan menyusuri pinggir sungai Bagawanta lewat Bagelen, Roma (Karanganyar), Pamerden (Merden) di Purworejo Timur) lalu ke Banyumas jalan kaki melewati Gunung Slamet ke Tegal. Di samping itu sesampai di Banyumas ada pula jalan utama yang bercabang menuju Tegal sebagaimana yang dilalui oleh Amangkurat I tahun 1677. (B. Schrieke, 1957: 107-108).

Secara ekonomi, Tegal telah berkembang sejak lama yaitu saat VOC mengembangkan sayapnya di pesisir Jawa. Pada tahun 1678, telah ada usaha untuk menjamin beberapa bisnis di Tegal meskipun ada perkembangan yang mengkhawatirkan. Pegawai pos perdagangan VOC yang baru tiba di Tegal melakukan usaha untuk mematikan suatu sistem skala yang lebih kecil, dengan cara menyediakan tekstil secara kredit bagi wanita di pasar Tegal (Luc Nagtegal, 1996: 119).

Pada masa Amangkurat II, Mataram diintervensi oleh VOC karena imbalann terhadap jasa yang diberikan untuk menumpas pemberontakan di Jawa Timur. Bantuan Belanda terhadap Amangkurat II ini membuat Tegal dibawah kekuasaan VOC sehingga impor apapun ke Tegal termasuk pakaian dan opium harus mendapat persetujuan dari Belanda melalui Adipati Mandaraka yang telah ditunjuk VOC sebagai pemimpin Tegal.( Thomas Stamford Raffles, 1996: 181)

Namun demikian, para pesaing VOC mencari terobosan lain dengan cara mengeksploitasi pada skala kecil pula. Sebagai contoh, Moors dari Banten menjual tekstil di Tegal di bawah lantai yang mereka potong di depan kapal mereka di atas pantai. Mereka menjual dengan cara membentangkan kain panjang setiap hari selama sepuluh hari untuk menarik minat pembeli sebelum kembali ke laut lagi. Orang Cina juga demikian, mereka menjual dalam jumlah kecil opium di pasar Tegal, serta masuk ke desa-desa secara rutin dan berkeliling menukarkan opium mereka dengan sekam padi, gula, atau yang lain (Luc Nagtegal, 1996: 117). Jadi sebenarnya aktivitas ekonomi di Tegal telah muncul cukup lama.

Sebagai salah satu penghasil beras, maka harga beras di Tegal tahun 1680-1740 agak lebih baik yaitu 15-20 rix dollar perkoyang (Luc Nagtegal, 1996: 157). Pada tahun 1724, residen baru Tegal, De Laval memutuskan bahwa Tegal akan menjual beras secara langsung dari petani ke pasar. Dalam memperkuat harga, maka tujuh pembeli Eropa menetap secara permanen pada pasar beras utama di Tegal dan Pekalongan. Mereka dan pembantu orang Jawanya membeli beras dalam skala kecil. Beras dimasukkan ke karung goni dan kemudian dikirim ke kota Tegal dengan menggunakan kereta kerbau sewaan atau perahu. Selain itu ada juga beras yang dikirim ke toko, warung, maupun di simpan di gudang. Para pembeli mempunyai hubungan yang erat dengan petani. Pembeli di Lebaksiu di selatan Tegal memberi 2 rix dollar untuk setiap jung tanah garapan. Di sisi lain petani mengharapkan hasil kurang lebih 12.000 kati padi beras tumbuk. Kadang-kadang penduduk datang untuk memohon kredit dengan inisiatifnya sendiri tetapi biasanya pembeli menyarankan untuk melakukan kredit dulu dengan tujuan agar mudah dikontrol (Luc Nagtegal, 1996: 200).

Areal sawah yang ditanami yang ditanami oleh setiap rumah tangga pada tahun 1795-1809 terlihat dalam tabel berikut :


Areal Sawah yang Ditanami oleh setiap rumah tangga

tahun 1795-180939



Kurun Waktu 5 tahun

Jumlah Sawah dalam Hektar

1795-1799

0,55

1800-1804

0,56

1805-1809

0,53

Data tersebut menunjukkan bahwa luas areal sawah yang ditanami oleh setiap rumah tangga di Karesidenan Tegal mengalami fluktasi.

Di sektor tenaga kerja, VOC membutuhkan pekerja Jawa di pesisir untuk bongkar muat barang maupun untuk memelihara benteng. Para pekerja dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu pekerja yang tujuannya untuk memenuhi kewajibannya pada bupati dan kedua adalah pekerja VOC murni. Kedua kelompok ini menerima bentuk imbalan jasa, menerima hak, dan kepastian bekerja pada sebidang tanah untuk memperoleh hasil atas tenaganya. Pada tahun 1705, di pos perdagangan di Tegal tiap hari membutuhkan pekerja 40 orang untuk tugas yang cukup sulit ini (Luc Nagtegal, 1996: 217)




  1. Fakta Geografis dan Demografis

Tegal adalah sebuah karesidenan di Jawa yang di sebelah barat berbatasan dengan Karesidenan Cirebon, di sebelah barat daya Karesidenan Banyumas, sebelah timur dengan Karesidenan Pekalongan, dan di sebelah utara dengan Laut Jawa. Luas karesidenan ini mencapai 53,1 mil geografi atau 1,284 paal persegi. (Luas 53,1 mil persegi di sini berdasarkan peta statistik dari Melvill van Carnbee tahun 1849. Sedangkan menurut Atlas Hindia Belanda sehubungan dengan perhitungan topografi sementara berjumlah 63 mil geografi persegi atau sekitar 1,523 paal (Regering Almanak van Nedelandsh Indie Tahun 1849).

Menurut letak geografi, disebutkan bahwa Ibukota karsidenan, kabupaten dan distrik Tegal terletak pada 6 51’ 9,4” LS dan 109 7’ 49” BT. Adapun selisih waktu dengan Batavia adalah 9’ 18,77”. Menurut peta Melvill Van Carnbee Tegal berada pada posisi 53,1 mil, sedangkan menurut peta Van Nederlands Indie masih dalam ukuran mil, maka letak Tegal berada pada posisi 63 mil ( Regering Almanak van Nederlandsh Indie Tahun 1868: 63) Di sebelah barat laut terdapat gunung Slamet, 14 mil di sebelah utara terletak Gunung Gajah, 261 paal barat dari Batavia, 47 sebelah timur arah Cirebon, dan 74 paal sebelah utara adalah Banyumas. Karesidenan ini berbentuk segitiga di mana puncaknya jatuh pada lereng timur laut gunung Slamet yang mempunyai ketinggian 3.472 meter dari permukaan laut (D.G. Stibbe, 1921: 291) dan P.J. Veth, 1869: 828 dan 850.)


Bagian utara Tegal dipenuhi bentang lahan aluvium yang luas yang berubah menjadi tanah kwartier. Bagian tengahnya terdiri atas perbukitan tersier yang termasuk tanah campuran. Adapun di bagian selatan terletak di lereng Gunung Slamet, sehingga tanahnya menjadi vulkanis. Kedua sungai utama adalah Kali Rambut dan Kali Gung yang juga sumber airnya dari Gunung Slamet. Sungai tersebut mengalir di sepanjang ibukota Karesidenan Tegal. Air dari Kali Gung di arus hilirnya sebagian besar dimanfaatkan bagi pengairan sawah di mana padi dan tanaman lain ditanam untuk pasaran domestik yang terletak di dataran rendah (D.G. Stibbe, 1921: 291).

Kota yang namanya berarti “dataran” atau “lembah” ini, mencakup lahan seluas 18 km2 dan dipotong oleh jaringan jalan pedati sepanjang 23 km. Di sepanjang tiga sisinya, Tegal memiliki batas-batas alami yaitu di bagian utara Laut Jawa menjadi batas sementara, di bagian barat dan timur batasnya dibentuk dengan sungai Ketiwon dan Sibeh (D.G. Stibbe en F.J. W.H. Sandbergen, 1935: 417) Tegal terletak di jalan raya utama yang menghubungkan Jawa Barat dan Jawa Timur di pantai utara; karena jalan yang membentang dari pantai utara ke pantai selatan (Banyumas) dimulai di Tegal. Kota ini menjadi persimpangan lalu-lintas yang penting. Banyak jalur darat menghubungkan Tegal dengan tempat-tempat yang terletak di sekitarnya, sementara melalui jalur Perusahaan Trem Uap Semarang-Cirebon Tegal dihubungkan dengan kota-kota ini (D.G. Stibbe en F.J. W.H. Sandbergen, 1935: 218)

Tanah pada umumnya datar dan membentang ke sisi selatan, bentuknya berbukit. Sementara di perbatasan Banyumas hanya sebuah gunung yang ditemukan, yakni Gunung Slamet, yang terkenal dengan nama gunung Tegal. Gunung ini merupakan gunung terbesar di Jawa setelah Semeru (P.J. Veth, 1869: 827). Secara umum Karesidenan Tegal tanahnya subur, di mana sejumlah sungai penting yang bermata air dari pegunungan banyak berperan.

Sementara 1 ½ mil dari pelabuhan Tegal ke arah timur laut terletak sebuah tempat yang dikenal dengan nama Kali Jeruk. Jumlah sungai mencapai 43 buah dan sungai Comal merupakan satu-satunya sungai yang dapat dpakai untuk berlayar hingga 20 jam. Di sebelah barat terdapat sungai Losari atau Sangaron, Kabociutan, Pamali, Gangsa, Tegal, dan Maribaya. Lebarnya 40-50 Rijn kaki, namun mendekati ibukota Karesidenan melalui kanal Pagongan lebarnya semakin berkurang (P.J. Veth, 1869: 827-828).

Secara demografi, jumlah penduduk di Karesidenan Tegal dapat dilihat pada tahun 1815, saat Raffles memegang kekuasaan di Jawa. Adapun populasi totalnya adalah 123.208 jiwa dengan perincian 58.185 laki-laki, 65.023 perempuan. Adapun klasifikasi penduduk karesidenan Tegal berdasarkan mata pencahariannya adalah petani 11.693 jiwa, pekerja rumah tangga non petani 7.990 jiwa. Dari jumlah tersebut dapat digolongkan 121.238 merupakan penduduk pribumi dengan perincian 57.224 laki-laki, dan 64.014 perempuan. Penduduk Cina pada masa itu relatif cukup besar yaitu sekitar 1.025 dengan perincian 518 laki-laki dan 507 wanita (Thomas Stamford Raffles, 1994: 261)

Meskipun Raffles tidak menyebut penduduk golongan yang lain, namun dapat disimpulkan bahwa sisa jumlah 945 jiwa kemungkinan dari warga Timur Asing, Eropa, dan Arab. Selama kurun waktu 15 tahun hingga 20 tahun, populasi di Karesidenan Tegal mengalami peningkatan yang cukup signifikan, sehingga pada tahun 1830 hingga tahun 1835 jumlah penduduk di Tegal menurut De Sturler diperkirakan 230.000 jiwa. Jadi dari data tersebut telah terjadi peningkatan populasi di Karesidenan Tegal sekitar 90 % (J.C. Breman, diterjemahkan oleh Sugarda Purbakawatja, 1971: 35).

Pada tahun 1829, rata-rata penduduk per desa di Karesidenan Tegal adalah 86 orang (E. Elson, 1994: 4). Sebuah contoh yang terkenal dalam cerita ini sebelum tahun 1830-an adalah tentang migrasi penduduk dari Tegal ke daerah lain yang dilakukan oleh bujang. Migrasi ini umumnya direkrut oleh mandor untuk menjadi buruh dengan digaji yang tinggi pada tanaman gula dan tanah milik pribadi di sekitar Batavia. Status bujang sebenarnya tidak begitu jelas. Beberapa laporan menyebutkan bahwa mereka seorang laki-laki muda yang belum menikah dan mencari pekerjaan untuk memperoleh penghasilan. Di tempat yang baru mereka menikah dan menetap secara permanen untuk membentuk suatu komunitas. Sumber yang lain menyebutkan bahwa mereka dipandang sebagai cikal-bakal suatu daerah tertentu di Batavia sekaligus untuk meningkatkan kesejahteraan (E. Elson, 1994: 11-12.)

Adapun jumlah penduduk di masing-masing distrik di Karesidenan Tegal selama tahun 1837-1840, yaitu sekitar 4 tahun secara rata-rata mengalami kenaikan. Namun pada periode ini ada pula beberapa distrik yang mengalami penurunan jumlah penduduk. Distrik yang mengalami penurunan hanya empat distrik dari 18 distrik yang ada di Karesidenan Tegal. Distrik tersebut antara lain Losari, Tegal, Pangka, dan Mandiraja. Sedangkan 14 (empat belas) distrik yang lain di Karesidenan Tegal mengalami peningakatan penduduk. Gambaran rinci jumlah penduduk perdistrik di Karesidenan Tegal dapat dilihat pada tabel di bawah ini.


Tabel jumlah penduduk Karesidenan Tegal di beberapa distrik tahun 1837 – 1840


Distrik

1837

1838

1839

1840

Brebes

19309

2053

21399

21.621

Losari

9109

8021

8276

8797

Tangungan

-

4201

4310

4544

Bumiayu

10477

11083

12886

12861

Lebaksiu

9368

9205

11149

11425

Salem

5998

7035

7008

7405

Tegal

15844

13600

15535

15795

Krangdan

19743

19085

20010

21441

Maribaya

9154

9735

10675

10843

Kalisoka

13515

16903

17203

14659

Balamoa

15133

15346

15548

16023

Pangkah

22741

20103

20371

20862

Gantungan

4689

9208

9812

9858

Pemalang

18198

18735

19540

19597

Comal lor

10394

10435

11881

12083

Comal Kidul

5477

5284

7732

7996

Mandiraja

10939

11166

8997

9147

Bongas

6977

7368

8311

8490

Sumber: Algemeen Verslag van Residentie Tegal Over het Jaar 1840 (Algemeen Verslag van Residentie Tegal Over het Jaar 1840, Bundel Tegal nomer 12/1)

3. Kondisi Administratif

Tegal dahulu merupakan daerah sumber malaria yang cukup terkenal. Pada masa awal abad ke-19, yaitu sebelum tahun 1840 beberapa kali Tegal dilanda oleh penyakit tersebut. Kondisi ini mengakibatkan pusat pemerintahan sementara dipindahkan ke Banjaran, sebuah tempat kira-kira 9 kilometer ke arah selatan yang terletak di jalan raya menuju Banyumas. (D.G. Stibbe en F.J. W.H. Sandbergen, 1935: 417-419)

Karesidenan Tegal secara administratif terdiri atas beberapa wilayah sebagai berikut


  1. Kabupaten Tegal dengan 6 distrik yang disebut Tegal, Krangdon, Maribaya, Duku, Wringin, Pangka dan Gantungan;

  2. Kabupaten Pemalang dengan lima distrik yakni Pemalang, Comal Lor, Comal Kidul, Mandiraja, dan Bongas;

  3. Kabupaten Brebes dengan 5 distrik yakni Brebes, Losari, Bumiayu, Lebaksiu dan Siem; ( Regerings Almanak van Nederlandsch Indie tahun 1866 dan P.J. Veth, 1869: 828).

Karesidenan Tegal berada di bawah pimpinan langsung Residen. Adapun Kabupaten Brebes dan Pemalang diletakan di bawah Asisten Residen. Menurut Almanak tahun 1863 Kabupaten Pemalang pada tahun ini diletakan di bawah seorang Asisten Residen namun keberadaaan ini tidak disinggung dalam Almanak tahun 1862. Perubahan kabupaten menjadi wilayah Asisten Karesidenan juga ditetapkan dalam Keputusan Gubernur Jenderal tanggal 10 Nopember 1861 nomer 47 (Lembaran Negara nomer 111b), sementara dalam Peraturan Gubernur Jenderal 25 Januari 1866 (Lembaran Negara nomer 5) Kabupaten Brebes diletakan di bawah Asisten Residen. (Perubahan kabupaten menjadi wilayah Asisten Karesidenan juga ditetapkan dalam Keputusan Gubernur Jenderal tanggal 10 Nopember 1861 nomer 47 (Lembaran Negara nomer 111b), sementara dalam Peraturan Gubernur Jenderal 25 Januari 1866 (Lembaran Negara nomer 5) Kabupaten Brebes diletakan di bawah Asisten Residen)




    1. Ekonomi Tegal pada Abad ke-19

Pada abad ke-19, keberadaan Tegal ditopang oleh daerah pedalaman yang menghasilkan gula, beras, palawija, dan lain-lain. Ada beberapa area perkebunan tebu, indigo, serta berdiri pula beberapa pabrik gula di Tegal. Selain itu di Karesidenan Tegal tumbuh subur tanaman padi, palawija, sedikit kopi, ada ternak sapi, kerbau, dan lain-lain (P.J. Veth, 1869: 844-848, dan Arthur van Schaik, 1986: 129). Kondisi ini menunjukkan bahwa peran suplai pedalaman akan sangat mempengaruhi aktivitas ekonomi perkembangan pelabuhan Tegal.

Potensi-potensi ekonomi daerah Tegal seperti hasil pertanian dan perkebunan, pasar maupun industri kecil lainnya yang mendukung kegiatan masyarakat. Pedalaman mempengaruhi perkembangan ekonomi masyarakat. Sementara itu rute yang menghubungkan pedalaman Cirebon dengan pedalaman Tegal dan Banyumas bisa dicapai lewat jalan yang dilewati Raffles pada tahun 1813 yaitu dari Ranca menuju ke kawasan Dayeuh Luhur, Majenang (Thomas Stamford Raffles, 1994 ). Rute lain ke pedalaman dari Tegal dapat ditempuh melalui Pemalang dan Wiradesa ke Pekalongan, Batang, dan Subah, kemudian menyeberangi dataran Kedu ke Mataram. Diperkirakan jalur ini dipandang sebagai jalan tertua yang menghubungkan pantai Tegal dengan pedalaman (Alexandra A. de Heus, 1974: 7)

Secara ekonomi, areal sawah yang ditanami yang ditanami oleh setiap rumah tangga di Karesidanan Tegal pada tahun 1795-1839 terlihat dalam tabel berikut :
Areal Sawah yang Ditanami oleh setiap rumah tangga

tahun 1809-1839




Kurun Waktu 5 tahun

Jumlah Sawah dalam Hektar

1810-1814

-

1815-1819

1,03

1820-1824

-

1825-1829

0,98

1830-1834

0.92

1835-1839

0,84

Data tersebut menunjukkan bahwa luas areal sawah yang ditanami oleh setiap rumah tangga di Karesidenan Tegal mengalami fluktasi . Tetapi secara umum dari tahun ke tahun terjadi peningkatan. Peningkatan signifikan areal sawah yang ditanami oleh rumah tangga terjadi pada kurun waktu 1815-1819. Bila dibandingkan kurun waktu 1805-1809, kenaikan tahun 1815-1819 mencapai sekitar 50 %. Meskipun tahun 1825 sampai 1839 telah terjadi penurunan jumlah areal sawah yang ditanami, namun jumlahnya tidak terlalu besar (Peter Boomgaard, dalam Anne Booth, dkk, 1988: 179). Pada tahun 1836 jumlah pabrik gula pemerintah di Karesidenan Tegal sekitar 2 buah. Area yang ditanami tebu untuk menopang keberadaan pabrik gula tersebut berjumlah 756 hektar. (Peter Boomgaard, dalam Anne Booth, 1988: 179).

Adapun produksi perkapita padi di Karesidenan Tegal dalam kilogram selama kurun waktu 1815 hingga 1839 dapat dilihat pada tabel di bawah ini

Produksi Padi perkapita dalam Kilogram

tahun 1815-1839


Kurun Waktu 5 Tahun

Produksi Perkapita (dlm. Kg)

1815-1819

431

1820-1824

-

1825-1829

232

1830-1834

235

1835-1839

226

Pada kurun waktu 1815-1819 dapat dikatakan bahwa produksi padi perkapita di Karesidenan Tegal merupakan yang tertinggi bila dibandingkan tahun-tahun berikutnya. Tahun 1820 hingga 1839 produksi padi perkapita mengalami penurunan yang cukup besar sekitar 45% bila dibandingkan tahun 1815-1819. Penurunan ini disebabkan adanya kegagalan panen, migrasi, dan wabah penyakit (William J. O’Malley, dalam Anne Booth, dkk, 1988: 201)

Di sisi lain produksi padi per satuan Sawah dalam kilogram hektar padi sebagai berikut :

Produksi Padi Per Satuan Sawah (Kilogram hektar Padi) Tahun 1815-1839




Kurun waktu 5 Tahun

Produksi (dlm. Kilogram hektar Padi)

1815-1819

2.100

1820-1824

-

1825-1829

1.182

1830-1834

1.273

1835-1839

1.343

Gambaran di atas menunjukkan bahwa ada korelasi antara areal sawah yang ditanami terhadap produksi padi yang dihasilkan oleh setiap rumah tangga di Karesidenan Tegal. Luas areal sawah yang ditanami padi setelah tahun 1815 – 1819 mengalami penurunan Berkurangnya luas areal sawah ini berdampak pada berkurangnya produksi padi. Puncak dari produksi padi terjadi pada tahun 1815-1819 yang mencapai 2.100 kilogram. Adapun produksi padi tahun-tahun berikutnya relatif sedikit. (Peter Boomgaard, 1988: 183)

Secara ekonomi karesidenan Tegal mempunyai potensi cukup besar karena pedalamannya merupakan sumber penghasil kekayaan bagi masyarakatnya. Pada tahun 1815 hingga tahun 1830 diperkirakan persentase keluarga petani sekitar 87%, sedangkan prosentase keluarga pemilik tanah sekitar 68%. Jadi kehidupan agraris masyarakat agraris masih mendominasi. Sisanya sekitar 13% bergerak di luar sektor pertanian. Keluarga yang memiliki tanah sendiri cukup besar, sedangkan yang tidak miliki tanah sekitar 32%. (Peter Boomgaard, 1988: 190). Dari catatan Raffles disebutkan bahwa pada tahun 1815 jumlah tanaman dan populasi di Tegal sebagai berikut: terdapat 5.920 jungs tanah yang ditanami, 5.694 jungs sawah, 204 jungs tegalan, 21 jungs kebun kopi (Jung standard sama dengan 2.000 road persegi Rijn atau 2,8 hektar). Pada tahun 1815 Jung lama berkisar sekitar 1,5-12,5 Jung baru. Sebelum 1815 1 Jung sama dengan 4 cacah, (Raffles, 1994, dan Peter Boomgaard,1988: 167), 367.198 amats produksi padi, 16.335 amats produksi maize, 541 pikul produksi kopi, 538.557 rupes nilai produksi padi, 6.125 rupes nilai produksi maize, 51.981 nilai produksi kopi total nilainya adalah 549.881 jawa rupes. (Thomas Stamford Raffles, 1994: 261.)

Di bidang peternakan, setiap rumah tangga di Karesidenan Tegal telah terbiasa dengan pemeliharaan kerbau. Biasanya setiap rumah tangga ini terdiri dari 5 jiwa. Secara rinci jumlah kerbau yang dimiliki oleh setiap rumah tangga digambarkan di bawah ini :
Rata-Rata Jumlah Kerbau Setiap Rumah Tangga Tahun 1815-1839

Kurun Waktu 5 Tahun


Jumlah Setiap Rumah Tangga

1795-1899

0,73

1800-1804

0,66

1805-1809

0,79

1810-1814

-

1815-1819

0,68

1820-1824

-

1825-1829

-

1830-1834

0,70

1835-1839

0,84

Rata-rata jumlah kerbau yang dimiliki oleh setiap rumah tangga selama kurun waktu 45 tahun tersebut sekitar 0,73. Data di atas menunjukkan bahwa fluktuasi kepemilikan kerbau di Karesidenan Tegal tidak terlalu tinggi. Jumlah kerbau tertinggi yang dimiliki oleh setiap rumah tangga terjadi pada tahun 1835-1839 yaitu sekitar 0,84 persetiap rumah tangga. (Peter Boomgaard, 1988: hlm. 186). Di samping itu pada tahun 1815 terdapat pula 14.689 kerbau, 1.435 kuda, 5.685 bajak (luku), 14.663 kerbau pribumi, 1359 kuda, 5682 luku pribumi. Adapun orang Cina mempunyai 13 kerbau dan 64 kuda (Thomas Stamford Raffles, 1994: 261).

Pusat perdagangan petani di Tegal biasanya dipasar dan di tepi sungai sehingga mudah untuk diakses. Petani melakukan perjalanan ke hulu pasar di aerah pedalaman di Tegal untuk menjual hasil berasnya. Kebanyakan beras hasil dari Tegal digunakan untuk konsumsi ekspor. Di pasar ini berbagai hasil daerah Tegal maupun daerah lain diperjualbelikan. Antara lain buah, produk industri seperti keranjang, pot dan tekstil dalam jumlah banyak, ayam, unggas (ayam itik), dan yang utama dalam pasar pesisir ini adalah ikan segar. ((Thomas Stamford Raffles, 1994: 108)

Pada tahun 1841, penduduk Karesidenan Tegal terbiasa melakukan transaksi perdagangan di pasar. Mereka banyak mengunjungi pasar dengan barang-barang yang dihasilkan. Aktivitas masyarakat di pasar ini juga dikenai pemungutan pajak, yang kadang-kadang melebihi tarip yang telah ditetapkan. Dalam meningkatkan ekonomi masyarakat, maka dilakukan perbaikan penting terhadap bangunan pasar. Bangunan yang semula sederhana yaitu menggunakan kedai bambu, kemudian dikembangkan menjadi los batu yang ditutup dengan genting. Harga beras di wilayah ini dan di Kabupaten Tegal berkisar antara f 4-5 per pikul, di Brebes antara f 3-4 dan di Pemalang f 3-5. Jadi harga beras beras pada periode ini di seluruh karesidenan ini cukup stabil. Bahkan pada tahun 1842 Pasar tetap selalu banyak pengunjungnya. Meskipun tarip pasar dan kuli dinaikkan dari tahun sebelumnya, penduduk tidak merasa keberatan. Setidaknya tidak ada keluhan yang masuk tentang hal itu. Harga beras pada tahun ini rata-rata mencapai f 3 ½ sampai f 5 uang tembaga per pikul. Harga ini tidak jauh berbeda dengan harga sebelumnya. (Algemeen Verslag van Residentie Tegal Over het Jaar 1841 dan Bundel Arsip Tegal Nomer Nomer 12/2 dan Algemeen Verslag van Residentie Tegal Over het Jaar 1842. Nomer Koleksi 12/3)

Dari tahun ke tahun perekonomian masyarakat meningkat. Indikatornya adalah hasil panen pertanian cukup menguntungkan masyarakat dan adanya diversifikasi produk-produk utama di Karesidenan Tegal. Sebelum tahun 1841, sebagian besar tanah pertanian masih menggunakan tadah hujan. Namun atas usulan pemerintah tahun 1836, maka pada tahun 1840-an mulai pembangunan proyek irigasi. Dengan demikian tanah pertanian yang semula tergantung pada tadah hujan dapat dirubah menjadi lahan baik untuk pembukaan lahan baru yang produktif (Algemeen Verslag van Residentie Tegal Over het Jaar 1841. Bunder Arsip Tegal Nomer Nomer 12/2).

Pada tahun 1830-an, sektor pertanian sudah mulai dikembangkan menjadi penopang perkonomian pemerintah Kolonial. Tanaman tebu diarahkan menjadi perkebunan yang menghasilkan devisa dalam bentuk pabrik gula. Gambaran hasil produksi gula terlihat pada tabel di bawah ini :
Jumlah Produk gula perbahu 1838-1840


Tahun

Jumlah Per bahu

1838

14 Pikol

1839

13,33 Pikol

1840

15,83 ½ Pikol

Sumber : Algemeen Verslag van Residentie Tegal, Over het jaar 1840 Bundel Tegal
Data di atas menunjukkan bahwa secara umum pada periode tiga tahun tersebut, jumlah produk gula yang dihasilkan perbahunya mengalami peningkatan dalam jumlah pikol. Meskipun peningkatan ini masih relatif kecil.

Adapun hasil produksi gula antara tahun 1839 –1840 sebagai berikut :


Hasil produk gula tahun 1839-1840


Tahun

Luas tanaman Tebu (dalam bahu)

Hasil produk Gula

(dalam Pikol)



1839

1.400

16.029

1840

1.400

25.842

Sumber: Sumber : Algemeen Verslag van Residentie Tegal, Over het jaar 1841 Bundel tegal nomer 12/1

Melihat hasil tanaman gula tersebut dapat disimpulkan bahwa di Karesidenan Tegal telah terjadi peningkatan produksi gula. Produksi rata-rata selama tahun 1840 dan 1839 hanya 18 46/100 pikul dan 11 44/100 pikul.

Di luar sektor pertanian dan penangkapan ikan berbagai cabang kerajinan yang terdiri atas kerajinan besi, tembaga, perak, dan kerajinan emas jumlahnya mengalami peningkatan. Demikian juga untuk tenaga yang membutuhkan keahlian seperti tukang batu, tukang kayu, tenun katun, pemintalan, pembuatan genting, pembakaran pot dan pembuatan kapur yang pada tahun belakangan ini mengalami kenaikan pesat. Sebagai contoh adanya peningkatan itu dilihat pada pembuatan kapur. Pada tahun 1837 sektor ini baru menghasilkan 24.204 ton, namun pada tahun tahun 1838 hingga 1841 terjadi lonjakan hasil produksi sebanyak 38.153 ton, 42.661 ton, 61.502 ton dn 72.084 ton. Sebagian besar hasil produksi kapur tersebut digunakan untuk konsumsi lokal. Di sektor pembuatan genting dan pembuatan pot juga mengalami kenaikan produksi. Kondisi ekonomi masyarakat dipercepat dengan adanya pembukaan empat pabrik gula baru di Karesidenan ini, sehingga jelas membuat banyak tenaga tukang yang semakin cocok di sini (Algemeen Verslag van Residentie Tegal Over het Jaar 1841. Bundel Arsip Tegal Nomer Nomer 12/2).

Di sektor hutan, daerah pedalaman Tegal merupakan penghasil kayu baik untuk keperluan industri, pribadi, maupun jual-beli. Wilayah-wilayah tersebut antara lain meliputi Regentschap Pamalang, Regentschap Brebes, dan Regentschap Tegal. Secara rinci masing-masing kabupaten mempunyai wilayah hutan adalah Regentschap Pemalang meliputi distrik Pamalang yang terdiri atas desa Lamahabang, Desa Djatilawang, Desa Penoengan Lor, Lengerong, Djoho, Keliboen, dan Pengasinan. Kedua Distrik Mandiradja yang meliputi Parengan, Parengbanteng, dan Panoesoewan. Ketiga distrikt Comal Kidul meliputi Ngasinan, Lawas, Parengbanteng, Kebaderan, dan Bobos. Adapun Regenstchap Brebes terdiri atas distrik Brebes yang membawahi Kempang dan Geblook. Kedua distrik Boemiaijoe membawahi Karanmangu, Tjiboenar, Boeloe Rangkang, Limbangan, Blimbing, Wanalaba, Kemetjing, Geger gedoeng, Batoe Iring, Songem, Koetamendalo, Sutjoko, Petambakan, Kelabasa, Katiwadas, Goenoengbandjaran, Timbang, Kebon Jati. Ketiga distrik Lebaksioe meliputi Goenoengtoemping, Pagoepakawarak, Pagerwangi, Kaijoekobang dan Sirekot. Keempat distrik Salem meliputi Pagebatang dan Goenoengarong. Di Regentshap Tegal terdiri atas Distrik Pangkah meliputi Geger Gondang, Boloepaijong, Geger Jatikoening, Geger wedi dan Geger Jati. Kedua di distrik Gantoengan meliputi Geger Soewer, Temoegiring, Larangan, Kedoeng Santri, Geger moending, Woning, Kaligadong, Petjarattan, Gegher Jati, dan Penambangan. Ketiga distri Maribaya meliputi Pilang Pasar, Tjipero, Macan Oetjoel, Lemah Abang, dan Kalen Gadong (Staatblad van Nederlands Indie 1871 NO. 52).



Di sektor yang lain seperti usaha pembuatan garam juga telah menjadi mata pencaharian sebagain penduduk Tegal yang hidup di pinggir pantai. Kondisi ini hampir dijumpai di sepanjang pantai utara Jawa (J.E. de Sturler, 1836: 103). Garam ini dibuat dari air laut sehingga dengan panasnya matahari maka airnya akan menguap, meninggalkan unsur-unsur garamnya. Proses pembuatannya memerlukan waktu sekitar lima hari. Fase pertama adalah dalam beberapa hari menggenangkan air laut yang ada didalam tambak. Fase kedua adalah membiarkan garamnya mengendap. Ini dilakukan untuk membebaskannya dari rasa pahit.


  1. Penutup

Hinterland (daerah pedalaman) Karesidenan Tegal mempunyai potensi ekonomi yang cukup tinggi. Mulai dari sektor pertanian dan perkebunan. Keberadaan daerah hinterland sebelum abad ke-19 sudah berkembang baik. Pada abad ke-19, seiring dengan adanya perluasan pertanian oleh Pemerintah Hindia Belanda membuat Karesidenan Tegal menjadi daerah penghasil produk pertanian dan perkebunan. Kondisi ini ditopang oleh geografi, demografi, dan ketersediaan sumber daya alam yang memadai. Hasil pertanian dan perkebunan berkembang pesat seiring dengan adanya kebijakan sistem tanam paksa pada tahun 1830-an. Kondisi ini semakin mantap dengan adanya kebijakan pemerintah kolonial yang mengembangkan sektor perkebunan untuk kepentingan ekspor. Produk perkebunan dan pertanian yang berorientasi ekspor antara lain gula, padi, beras, kopi, kelapa, teh, indigo, dan yang lainnya. Kebijakan ekspansi perkebunan sendiri membawa dampak menguntungkan bagi petani di Karesidenan Tegal, karena dapat menyerap tenaga kerja. Karena perkebunan merupakan kegiatan ekonomi yang paling banyak membutuhkan tenaga kerja untuk proses ekspansinya.

DAFTAR PUSTAKA

A. ARSIP-ARSIP DAN SUMBER TERCETAK



Algemeen Verslag van Residentie Tegal Over het Jaar 1847, bundel Arsip Tegal, Koleksi ANRI Jakarta
Algemeen Verslag van Residentie Tegal Over het Jaar 1870-1873, bundel Arsip Tegal, Koleksi ANRI Jakarta
Algemeen Verslag van Residentie Tegal Over het Jaar 1871, bundel Arsip Tegal nomer 19, Koleksi ANRI Jakarta
Algemeen Verslag Tahun 1870-1873
Archieven van Financien 1853
Archieven van Financien 1856
Regering Almanak van Nederlandsh Indie Tahun 1868. (Batavia: Landsdrukkerij, 1868).
Regerings Almanak van Nederlandsch Indie tahun 1824 (Batavia: Landsdrukkerij, 1824).
Regerings Almanak van Nederlandsch Indie tahun 1825(Batavia: Landsdrukkerij, 1825).
Regering Almanak van Nedelandsh Indie Tahun 1849 (Batavia: Landsdrukkerij, 1846).
Regering Almanak van Nedelandsh Indie Tahun 1855 (Batavia: Landsdrukkerij, 1855).
Regering Almanak van Nedelandsh Indie Tahun 1857 (Batavia: Landsdrukkerij, 1857).
Regering Almanak van Nedelandsh Indie Tahun 1882 (Batavia: Landsdrukkerij, 1882).
Regering Almanak van Nedelandsh Indie Tahun 1883 (Batavia: Landsdrukkerij, 1883).

Kolonial Verslag tahun 1886.
Koloniaal Verslag tahun 1891.
Indisch Staatsblad 1859 No. 79
Indisch Staatsblad 1871 NO. 52
Indisch Staatsblad 1875 No. 207

Nasehat Residen Tegal No. 4157/14, 22 Juli 1890

Lembaran Negara Hindia Belanda Nomor 29 Tegal, Januari 1881


Surat Sekretaris Pemerintah Nomer: 2772 Buitenzorg, 9 Desember 1897
Lembaran Negara 1900 nomer 334.
Inventaris Arsip Tegal, Inkomende Brieven, Oktober 1866 nomor 2480/8
Inventaris Arsip Tegal, nomer 187/ Nomer 7294, 21 Oktober 1862

Laporan Umum Karesidenan Tegal tahun 1871, bundel Tegal nomer 19-1



B. BUKU-BUKU

A. de Heus, Alexandra, Enige Woelingen op Java in de Tweede Helft der 19th Eeuw, voornamelijk in het geweest Pekalongan, Doctoraal Scriptie, (Amsterdam: Pebruari 1974).


Berkhofer, Robert F., A Behavioral Approach ti Historical Analysis, (New York: The Free Press A Division of the Macmillan Company, 1971).
Boomgaard, Peter, “Mengubah Ukuran dan Perubahan Ukuran: Pertumbuhan Pertanian daerah di Pulau Jawa, 1815-1875”, dalam Anne Booth, dkk, Sejarah Ekonomi Indonesia, (Jakarta: LP3ES, 1988).
Breman, J.C, diterjemahkan oleh Sugarda Purbakawatja, Jawa Pertumbuhan penduduk dan Struktur Demografis, (Jakarta: Bhratara, 1971).
Cribb, Robert, Historical Atlas of Indonesia, (London-Singapore: Curzon-New Asian library, 2000)
de Graaf, H. J., De Regering van Sultan Agung, Vorst Mataram 1613-1645, (Leiden: ‘s Gravenhage Martinus Nijhoff, 1958).
de Graaf, H.J., dan T.G. Th. Pigeaud, Islamic States in Java 1500-1700 (Amsterdam: The Hague –Martinus Nijhoff, 1976).
de Sturler, J.E., Geschiedenis van Java van Thomas Stamford Raffles, (‘s Gravenhage, De Gebroeders van Cleef, 1836).
Elson, E, Village Java Under the Cultivation System, 1830-1870, (Sidney: Asian Studies Association of Australia in Association with Allen and Unwin, 1994).
F.A. Sujipto Tjiptoatmodjo, “Kota-Kota pantai di Sekitar selat Madura Abad ke-17 Sampai Medio Abad ke-19, (Disertasi Doktor pada Universitas Gajah Mada, 1983)
Fasseur, C, Kultuurstelsel en Koloniale Baten de Nederlandse Exploitatie van Java 1840-1860 , (Leiden: Universitaire Pers Leiden, 1975)
Fernando, M.R, “Pertumbuhan Kegiatan Ekonomi Nonpertanian Pribumi di Jawa, 1820-1880”, J. Thomas Lindblad, (ed.), Sejarah Ekonomi Modern Indonesia Berbagai Tantangan Baru, (Jakarta: LP3ES, 2000).
Garraghan, S.J. Gilbert, A Guide to Historical Method, (New York University Press, 1957)
Gottschalk, Louis, Understanding History A Primer of Historical Method, (New York: Alfred A. Kopf, 1956),
O’ Malley, William J. “Perkebunan 1830-1940: Ikhtisar”, dalam Anne Booth, dkk, Sejarah Ekonomi Indonesia, (Jakarta: LP3ES, 1988).
Knigt, Roger dan Arthur van Schaik, “Cane’s Struggle for Hegemony in Colonial Java: Braakhuur Question in Pekalongan Tegal, 1900-1942, dalam Lembaran Sejarah Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada tahun 2000 Vol. 3.No.1.
Knight, G.R., “Kuli-Kuli Pari, Wanita Penyiang dan Snijvolk : Pekerja-Pekerja Industri Gula Jawa Utara Awal Abad ke-20,” J. Thomas Lindblad, (ed.), Sejarah Ekonomi Modern Indonesia Berbagai Tantangan Baru, (Jakarta: LP3ES, 2000).
Marwati Djoened, dkk, Sejarah Nasional Indonesia III, (Jakarta: Balai Pustaka-Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1992).
J.E. de Sturler, Geschiedenis van Java van Thomas Stamford Raffles, (‘s Gravenhage, De Gebroeders van Cleef, 1836.
Nagtegal, Luc, Riding the Dutch Tiger : the Dutch East Indies Company and the Northeast Coast of Java 1680-1743, (Leiden: KITLV Press, 1996).
Nas, P.J.M. Kota di Dunia ketiga Pengantar Sosiologi Kota dalam Tiga Bagian. (terjem.), Sukanti Suryochondro,(Jakarat: Bharatara Karya Aksara, 1979).
Nugroho Notosusanto, Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer, (Jakarta: Inti Idayu, 1978).
Peter Boomgaard, dalam “Mengubah Ukuran dan Perubahan Ukuran: Pertumbuhan Pertanian daerah di Pulau Jawa, 1815-1875”, dalam Anne Booth, dkk, Sejarah Ekonomi Indonesia, (Jakarta: LP3ES, 1988)
P.J. Veth, Aardrijkskundig en Statistisch Woordenboek van Nederlandsch indie III, (Amsterdam: Van Kampen, 1869)
R. Bintarto, Beberapa Aspek Geografi, (Yogyakarta: karya, 1968)
Raffles, Thomas Stamford, The History of Java : Complete Text (Kuala Lumpur: Oxford University Press-Oxford Singapore New York, 1994).
Roelofsz, Meilink M.A.P., Asian Trade and European Influence in the Indonesian Archipelago between 1500 and about 1630. (Leiden: ‘S-Gravenhage Martinus Nijhoff, 1962).
R.Z. Leirissa, dkk, Sejarah Perekonomian Indonesia (Jakarta: Depdikbud, 1996).
Sartono Kartodirdjo, (et al) Sejarah Nasional Indonesia I, ( Jakarta: Balai Pustaka, 1977).
Sartono Kartodirdjo, (et al), Sejarah Nasional Indonesia II, (Jakarta: Depdikbud, 1975).
Sartono Kartodirdjo, Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1982).
Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992).
Sartono Kartodirdjo, Indonesian Historiografy: the State of the Arts the Place of Mataram History in Indonesian History, dalam the First International Conference on Indonesian Maritime Histroy : the Java Sea Region in an Aage of Transition . 1870-1970, Semarang, 1999).
Schaik, van Arthur, Colonial Control and Peasant Resources in Java, Agricultural Involution Reconsidered, (Amsterdam: 1986),
Schrieke, B, Indonesian Sociological Studies II, “ruler and Realm in Early Java” (Bandung: W. van Hoeve Ltd-The Huge, 1957).
Stibbe, D.G en F.J. W.H. Sandbergen, Encyclopaedie van Nederlandsch Indie, (Leiden: ‘s Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1935).
Stibbe, D.G., Encyclopaediae van Nederlandsch Indie, Tweede Druk Vierde Deel Soemb-Z, (Leiden: ‘s Gravenhage Martinus Nijhoff, 1921).
Suputro, Tegal dari Masa ke Masa, (Tegal: Bagian Bahasa Djawatan Kebudayaan Kementrian P.P. dan K, 1959).

Taufik Abdullah, Ke Arah penulisan Sejarah Sosial Daerah, (Jakarta: Direkorat Jarahnitra Proyek IDSN, 1983/1984).


Taufik Abdullah, “Beberapa Aspek Penelitian Sejarah Lokal”, dalam analisis kebudayaan Th. II no. 2 1981/1982, (Jakarta: Departemen pendidikan dan Kebudayaan).
Teuku Ibrahim Alfian, Metode Penelitian Sejarah, (Aceh: Arsip Perwakilan Daerah istimewa Aceh, 1994).
Van Schaick, Arthur, Colonial Control and Peasant Resources in Java, Agricultural Involution Reconsidered, (Amsterdam: 1986),
Van Dapperen, J.W., Tegalsche Visschers, dalam majalah Jawa, 13. Th 1933, hlm.


1 Alamsyah, SS, M.Hum adalah pengajar Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UNDIP





Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©atelim.com 2016
rəhbərliyinə müraciət